Bahaya Egosentris Dalam Kepemimpinan

Sangat membuat miris akhir-akhir ini dialektika rasional partai PAN meredup. Partai dialogis ini didominasi oleh egosentrisme personal dalam internal partai.
Pucuk pimpinan terlalu dominan dalam memutuskan berbagai perkara penting secara sepihak

Oleh : Eneng Humaeroh, Bendahara DPP PAN

INDONESIAPRESS.NET,-PAN adalah partai dialogis kuat dalam dialektika rasional, maka sikap kritisme PAN identik dengan sikap kritis Amien Rais terhadap permasalahan nasional yang terjadi. Hidupnya partai pun harus terus dalam dialektika rasional, dimana kekuatan intelektual seorang pemimpin akan terus diuji sepanjang periode, bagaimana pemimpin ideal dan logis dalam memecahkan masalah.

Namun yang sangat membuat miris akhir-akhir ini dialektika rasional partai PAN meredup. Partai dialogis ini didominasi oleh egosentrisme personal dalam internal partai.
Pucuk pimpinan terlalu dominan dalam memutuskan berbagai perkara penting secara sepihak tanpa melalui prosedur hukum mekanisme partai yang telah disepakati dalam Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga. Beberapa agenda penting diputuskan dengan cara sepihak tanpa pelibatan kader dan tanpa pemufakatan melalui dialog yang selama ini dibangun partai.

Egosentrisme adalah sikap atau prilaku yang berpusat pada diri sendiri dan keakuan, secara psikologis egosentrisme dimiliki oleh anak kecil, ia tidak mau untuk melihat perspektif (sudut pandang) orang lain. Ia gagal dalam menarik kesimpulan dari apa yang orang lain pikirkan, rasakan, dan lihat. Jika melihat sikap egosentris anak-anak, maka setiap segala sesuatu adalah “punyaku” ia tak mampu menyesuaikan diri, bahkan tidak mampu mengoreksi pandangannya jika dirasa pandangannya tersebut tidak sesuai dengan kondisi/lingkungan sekitar atau yang berkaitan dengan relasinya terhadap orang lain.

Sikap egosentrisme jika melekat pada diri seorang pemimpin akan sangat membahayakan karena segala sesuatu berdasarkan atas apa kemauannya, bukan berdasarkan pada “relasi” dan pandangan atau perspektif pihak lain. Misalnya yang kita alami beberapa waktu lalu dalam permasalahan bongkar pasang kepengurusan internal DPP PAN dilakukan dengan sepihak tanpa pertimbangan dan mekanisme serta prosedur hukum yang berlaku, pemecatan terhadap ketua-ketua DPW dilakukan berdasarkan rasa ketidak sukaan atau kepentingan pragmatis. Yang lebih parah memimpin rapat harian yang menentukan agenda kongres dilakukan sepihak dan dalam suasana ricuh dan tidak mempedulikan keberatan dan penolakan peserta rapat. Dan yang lebih menyedihkan lagi membawa palu sidang dan meninggalkan rapat itu prilaku egosentris.

Prilaku egosentris bukan hanya akan membuat tragedi dalam tubuh organisasi, tetapi lebih besar daripada itu akan terjadi kesemenaan terhadap apapun dan siapapun hanya karena dasar “keakuan” atau prilaku ego yang melekat. Setiap aturan yang berlaku akan dia tabrak, ia cenderung bebas dalam melakukan setiap keputusan berdasar kehendak hati serta berbuat sesuatu berdasarkan rasa suka. jika sudah melewati batas tanpa patologis, maka ilusi keakuan akan menipu realitas dalam kebebasan liar. Schopenhauer menyebutnya sebagai _manusia yang terperangkap dalam selubung maya_.

Jika suatu keputusan disebut sebagai biduk dalam perahu partai maka biduk itu sangat rapuh ditengah lautan ia tak akan mampu menahan ombak yang menggunung, badai yang melanda dan kapal besar PAN menjadi oleng dan tidak jelas arah dan tujuannya, karam dan ambigu dalam lautan samudera politik.

Seorang egosentris akan membawa pada kehancuran, ia tak mampu memegang kendali, sebab ia tak mampu membaca peta perjalanan. Jika kapal besar dalam percaturan perpolitikan nasional dinakhkodai oleh seorang yang egosentris jangan pernah berharap PAN diperhitungkan lawan dan dipanuti kawan, malah akan dicibir cemooh karena sikap abu-abu dan keliru.

Karenanya seorang nakhkoda kapal PAN harus dewasa, mampu membaca peta, mengerti sejarah kehidupan partai serta warna dan karakter perjuangan dan siap diuji kadar intelektualitasnya. Ia siap dan mampu menerima setiap cara pandang setiap awak kapal. Kapasitas dan intelektual seorang nakhkoda atau Ketua Umum mencerminkan kecerdasan sumber daya manusia PAN secara keseluruhan. Ketegasannya adalah cermin sikap partai itu sendiri. Kepatutan sikap dan bahasa tubuhnya adalah kepatutan partai itu sendiri.

Siapa yang ingin kapal besar PAN tenggelam dalam samudera politik di negeri ini? Siapa yang rela karam bersama prilaku egosentris? Jangan karena takut tidak dibagi permen dan gula-gula seseorang diam mengiyakan egosentrisme dalam artian supaya si anak tidak marah dan terus berbagi gula-gula. Jangan karena sayang lalu membiarkan si anak merusak partai ini dengan rasa suka cita. Jangan pula karena keuntungan pragmatis turut buta matahati dan pura-pura tidak tahu dengan kerusakan yang telah terjadi.

Mari kita bangun dari selubung maya, mari bertanya pada hati nurani apakah kita rela dan membiarkan biduk partai rapuh? Hati nurani tak akan berbohong ia akan jujur menjawab, mari kita selamatkan kapal besar PAN agar kita tidak ikut tenggelam.

Oleh : Eneng Humaeroh, Bendahara DPP PAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *