Belajar Untuk Memahami Pikiran Pria



Oleh : https://twitter.com/mommy_elzar?s=09

Secara fisiologis, pada otak wanita ada semacam jembatan neuron antara lobus kanan dan kiri otak besar, sedangkan pada pria tidak ada. Kedua lobus otak kita ditakdirkan untuk memikirkan hal dengan cara berbeda; pria secara logika (maskulin) dan wanita secara estetika (feminin).

Wanita akan cenderung selalu menghubungkan satu hal dengan hal yang lainnya, sementara pria tidak. Itulah mengapa wanita acap kali disebut

“AHLI SEJARAH’

Karna wanita kerap kali mengungkit sesuatu yang sudah lama sekali terjadi yang bahkan mungkin pria tidak ingat.
Sebelum bayi lahir ke dunia, otak bayi pria dibombardir dengan hormon testoteron (pria punya 20x lipat lebih banyak hormon testoteron daripada wanita), sedangkan bayi wanita menerima hormon wanita dengan jumlah lebih banyak.


Hormon serotonin pada otak pria pun tidak sebanyak pada otak wanita. Serotonin bersifat menenangkan orang, sedangkan kaum pria kemungkinan akan berkelakuan meledak-ledak dan spontan.
Begitu juga dengan hormon oksitosin. Oksitosin memicu insting “tend-and-befriend” (respons terhadap tekanan yang memiliki kecenderungan melindungi keturunannya dan mencari kelompok sosial tertentu untuk mempertahankan diri bersama-sama),dan insting “fight-or-flight” (respon spontan terhadap tekanan, yang di dalamnya aliran hormon adrenalin terhambat dalam darah sehingga menimbulkan reaksi fisik seperti berkelahi atau sebaliknya, melarikan diri).


Semakin tinggi tingkat oksitosin dalam tubuh, semakin berkurang keagresifan seseorang. Selanjutnya, orang dengan tingkat oksitosin lebih tinggi cenderung berempati lebih cepat dan langsung.
Wanita lebih mungkin memiliki ikatan relasi yang baik dan empati yang terhubung dengan pusat otak verbal, yang biasanya memunculkan pertanyaan,

“how’s you feel?”

atau

“are you okay?”
Antara bulan ketiga dan bulan keenam kehidupan bayi dalam kandungan, hormon mulai membentuk otak kecil, yang akan memengaruhi cara individu itu berinteraksi dengan dunia. Hormon-hormon inilah yang nantinya membedakan fungsi otak pria; maskulin, sedangkan otak wanita; feminin.



Otak pria diibaratkan seperti ruangan arsip besar dengan kotak-kotak yang tersusun rapi dan diberi label. Ada kotak mobil. Ada kotak rumah. Ada kotak tabungan. Ada kotak sepakbola. Ada kotak pekerjaan. Semua hal ada kotaknya.
Jika pria sedang main game, yang akan dilakukan otak mereka adalah membuka kotak game, sibuk dengan isinya, tanpa harus menyentuh kotak lainnya. Pria tidak bisa dan tidak suka jika harus membuka lebih dari satu kotak pada saat bersamaan.


Kalau dipaksa, kotak-kotak pria nantinya akan berantakan, dan mereka malas untuk merapihkannya kembali. Jika sudah berantakan, pria akan jadi lemot (diajak ngomong apa aja ora masuk) karena mereka jadi sulit untuk menemukan kotak yang mereka inginkan nantinya.
Uniknya, ada satu kotak yang istimewa di kepala semua pria. Kenapa istimewa?

Karena, TIDAK ADA ISINYA.

Namanya Nothing Box / Kotak Kosong.

Tempat pelarian kalo lagi ruwet.
Nothing box ini kotak favorit kaum pria. Kotak inilah yang menyebabkan pria bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk tidak melakukan apa-apa tetapi ajaibnya mereka tetap hidup, bahkan cenderung menikmatinya. Yang tak jarang bikin kaum wanita kesyellll say ~~~
Contohnya kayak ngerokok sambil ngopi doang. Mancing, tapi nggak dapet ikan. Main game, udah tamat tapi diulang lagi. Tidur ayam, leyeh-leyeh sampai seharian atau apapun bentuk kegiatan sia-sia lainnya. 🥱
Maka dari itu otak pria memang membutuhkan waktu istirahat lebih banyak daripada otak wanita. Dan di ‘nothing box’ inilah otak mereka beristirahat.
Berbeda dengan otak wanita. Otak wanita seperti sebuah ruangan server, dengan kabel warna warni yang saling bergumul kusut tak karuan. Bukannya nggak bisa rapi ya, tapi memang begitulah adanya.
Kabel-kabel ini adalah jaringan yang luar biasa berantakan tetapi bekerja dengan cepat dan hampir semuanya aktif dalam waktu yang bersamaan menghasilkan kerlap kerlip rumit yang cantik dari kejauhan.
Ada kabel anak, kabel investasi, kabel tagihan listrik, kabel tetangga, kabel liburan, kabel cucian, kabel baju, kabel dapur, kabel drama korea, kabel resep masakan, dan masih banyak kabel lainnya.
Bahkan ada kabel-kabel yang lebih kecil lagi; misal kabel sepatu/baju lucu yang lagi diskon, kabel halaman 12 dari novel yang dibaca, atau kabel postingan lambe turah. Dan, begitulah kabel-kabel itu bekerja; saling berhubungan satu sama lain. Ribet dan ruwet.
Seringkali wanita berpikir pacar/suaminya kurang peka terhadap luka hatinya ketimbang ibunya/teman-teman perempuannya karna tidak paham kalau cara kerja otak pria tidak sama dengan cara kerja otak wanita. Pria tidak pernah menghubungkan kasih sayangnya dengan pertanyaan verbal.


Kenapa pria seringkali membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat berelasi akrab dengan mertua/ mungkin dengan anak kandungnya sendiri? Sebab otak pria kurang memiliki zat kimia tertentu yang membawa “ikatan relasi yang kuat”.
Bukan berarti pria tidak bisa memiliki ikatan relasi yang kuat. Kemungkinan pria juga bisa memiliki itu, tetapi dibutuhkan lebih banyak waktu untuk mencapai titik tsb.
Hal ini nyata terjadi dan tidak hanya pada PACAR/SUAMI kamu saja, tetapi kaum pria pada umumnya. Berhati-hatilah supaya kamu tidak mencari kesalahan atau membenci pasanganmu karna pola pikirnya sebagai seorang pria.
Kebanyakan dari kita mempelajari tentang hubungan kita dengan lawan jenis berdasarkan intuisi; kemaskulinan dan kefemininan otak kita tidak dapat diubah sebagaimana yang diharapkan oleh banyak orang.
Kalau kamu ingin memotivasi pria dan berkomunikasi dengannya tanpa adanya gesekan ataupun pertengkaran, berhentilah mengharapkan ia bertindak atau berpikir seperti seorang wanita. Karna sampai kapanpun, pria tidak mungkin melakukan itu.


Jangan berharap cara berkomunikasi yang biasa kamu pakai dengan sesama wanita akan berhasil jika digunakan untuk berkomunikasi dengan seorang pria. Jika kamu tetap melakukannya, maka sesungguhnya kamu bersikap tidak adil. Dan kamu sudah pasti akan kecewa dan tidak bahagia.
Sebagian besar masalah dalam pernikahan timbul bukan karna masalah diantara dua individu, melainkan diantara dua gender. Itulah sebabnya perceraian dan pernikahan kembali sesungguhnya tidak memecahkan masalah.
Jika seorang pria dan wanita bercerai, dan kemudian menikah lagi, selama masing-masing dari mereka tidak menerima realita ini, ketegangan akan terus terjadi. Siapapun pasangannya.
Biasanya pernikahan kedua terlihat lebih berhasil daripada pernikahan pertama. Hal ini karna salah satu atau kedua partner ini pada akhirnya “PAHAM” dan menerima bahwa mereka harus menghadapi pasangannya dengan cara berpikir pasangannya itu.


Tetapi sesungguhnya, bukankah lebih sehat bagi semua pihak (dan jauh lebih hemat tentunya 😅) untuk memahami pelajaran ini ketika menjalani pernikahan pertama?
Sampai sini sudah paham belummmm???


Yuk lanjut ~~~
Tahukah kalian para wanita bahwa pria membutuhkan waktu tujuh jam lebih lama daripada wanita untuk memproses data emosi yang kompleks? Bayangin girls, tujuh jam!
Kaum pria mempunyai hipokampus yang lebih kecil di dalam sistem limbik (yang memproses pengalaman emosi) sedangkan wanita memiliki lebih banyak jalan syaraf yang menghubungkan bagian otak kiri dan otak kanan (yang memproses pikiran dan perkataan yang melibatkan emosi).

Contoh kasusnya:
Suami istri bertengkar sesaat setelah sarapan pagi, dan istri hanya butuh sekitar 5-10menit untuk memahami mengapa ia merasa sangat marah. Kebalikannya, suaminya mungkin baru mencapai titik itu ketika makan malam.
Tetapi kaum wanita sering kesulitan menunggu selama itu. Wanita ingin ‘sesegera’ mungkin mendiskusikan perasaannya dan ia mau suaminya melakukan hal yang sama, padahal otak suaminya belum sampai ke titik itu dan sedang memproses apa yang baru saja terjadi.
Sama halnya wanita membutuhkan lebih banyak waktu untuk ‘foreplay’ ketika berhubungan intim, demikian pula kebanyakan pria membutuhkan waktu untuk pemanasan dalam hal emosi.
Mengajak pria terjun langsung dalam diskusi yang kompleks sama halnya seperti pria mengajak istrinya untuk berhubungan tanpa pemanasan.
Berilah kaum pria waktu untuk mencerna permasalahan yang terjadi, baru setelah itu (ingat, minimal 7 jam) wanita bisa mengajaknya berdiskusi.
Bagaimana jika prianya menghindar dan tidak mau diajak berdiskusi? Tell me, apa yang kira-kira membuat pria tidak mau diajak berdiskusi dan bahkan menghindari wanita yang ingin menyelesaikan masalah?
I’m telling you girls.
Sebagian besar pria tidak akan bersedia mendiskusikan sesuatu jika mereka merasa dipojokkan atau disalahkan untuk kesalahan yang mereka lakukan.

Cmiiw, benar atau tidak hey kaum pria?
Wanita perlu belajar untuk mengungkapkan sesuatu tanpa menyerang pasangan dan membereskan hati mereka sendiri serta cara pendekatan mereka terhadap pria.
Ketika seorang wanita tidak mengerti cara kerja otak pria, ia beresiko menimbulkan respons yang negatif dari pria; sesuatu yang disebut para ahli sebagai “sikap tembok”.
Sikap tembok menggambarkan bagaimana pria menutup diri secara emosi dan verbal yang pada dasarnya menghindari percakapan dengan orang terdekatnya (re: istri misalnya). Dan tindakan pria seperti ini tidak jarang disalahartikan oleh wanita sehingga menyebabkan ‘baku hantam emosi’.
Wanita ingin diselesaikan segera –> pria memilih untuk diam –> wanita tensinya naik (meneriakkan kata-kata yang konotasinya merendahkan adalah hal yang paling sering wanita lakukan ketika marah) –> pria akhirnya pergi keluar rumah untuk menghindari stres –> wanita menangis.
Alasan biologisnya:
Sistem kardiovaskular pria bersifat lebih reaktif daripada milik wanita dan lebih lambat untuk pulih dari tekanan, maka tidak heran bila pria lebih berusaha menghindari hal itu daripada wanita.
Jika cara kerja otak wanita (melepaskan oksitosin), maka membicarakan masalah emosi membawa dampak yang menenangkan. Sebaliknya bagi pria cara tsb menciptakan kegelisahan dan penderitaan.
Dengan kata lain, jika wanita memaksa pria berdiskusi sebelum ia ‘paham’ apa masalahnya, bagi kaum pria hal itu akan sangat menyakitkan dan terasa seperti siksaan. Itulah sebabnya pria kerap bungkam sebagai tindakan pertahanan diri (meski diakui hal itu tidak sehat).
Wanita harus mengerti bahwa suatu serangan dengan kata-kata akan lebih menguras tenaga pria ketimbang dirinya sendiri. Dan cara tsb akan membuat diri pria lebih lama pulih.
Mengkritik, mengeluh, dan sikap merendahkan tidak akan membuat wanita dapat berkomunikasi secara efektif dengan pria. Karna sejatinya jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman.
Bagi wanita mungkin saja ia membicarakan sesuatu yang logis. Tetapi jika wanita membicarakan sesuatu yang logis dengan cara yang tidak logis, itu hanya akan menghantarkan situasi kalian menuju situasi panas.
Setelahnya pria akan sebisa mungkin menghalangi wanita tsb untuk masuk ke wilayahnya. Dan wanita akan semakin frustasi karna yang ia tahu pria tsb sama sekali tidak mau mendengarkan.
Sikapnya membuat wanita mengkritiknya semakin keras dan menghinanya semakin tajam hingga pada akhirnya tembok pria tsb semakin lama semakin tinggi. Dan akhirnya pria akan memilih untuk menjauhkan diri secara emosi dari hubungan itu.
Jika wanita menanggapi sikap pria dengan perilaku yang sama, maka kita hanya akan menambah parah sikap tsb. Cobalah untuk bersikap lembut, sabar, dan berilah pria sedikit waktu.
Pegel ya gaes ternyata hahahahaha
Masih pada mau belajar nggak??? 😁🙈
Oke lanjut.

Seperti halnya serangan kata-kata bisa mengacaukan otak pria, demikian pula serangan emosi. Ketika wanita ‘mendesak’ seorang pria, pria itu akan mulai panik. Kondisi biologis otak pria kadang mengharuskannya beristirahat dari hal-hal yang yang melibatkan emosi.
Sebagai contoh:
Hampir semua pria pasti mempunyai barang/hobi favorit yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Entah mobilnya, motor, skateboard, vape, main sepeda, memancing, naik gunung, budidaya ikan cupang (oke kalo ini hobi @zarryhendrik 😂), atau yang lainnya.
Jangan heran kenapa pria bisa menghabiskan waktunya berjam-jam dengan barang/hobinya tsb tanpa memikirkan hal lain yang sebenarnya lebih penting. Contoh: ngeliatin cupang sampe lupa istrinya butuh disayang-sayang 😭
Maap-maap lama ges abis nidurin bocah 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Masih pada nyimak khannnn????
Hal ini karna adanya kecenderungan biologis pada pria untuk mencari objek untuk diperhatikan yang membuat otaknya beristirahat dan mencari kesenangan menjalin hubungan bebas tanpa adanya stimulasi percakapan yang melibatkan perasaan.
Barang/hobi favoritnya membiarkan ia melakukan apa saja yang ingin ia lakukan. Barang/hobinya tidak akan berkomentar ataupun mengkritik soal apapun yang ingin ia lakukan. Barang/hobinya juga tidak akan melontarkan kata-kata seperti,

“We need to talk.”
Barang/hobinya pun tidak akan menanggapi pertanyaannya dengan sahutan,

“coba tebak”
“masa gitu aja nggak tahu?”

atau yang paling sering,

“terserah”.
Singkatnya, barang/hobi kesenangan pria membiarkan otak mereka untuk beristirahat. Pria mempunyai aliran darah ke otak 15% lebih sedikit dari yang wanita miliki, sehingga otak pria butuh lebih banyak istirahat.
Jarang ada pria yang jadi intim dengan pasangannya dengan cara didesak-desak. Jika pria tidak ingin berbicara, ada kalanya wanita lebih baik membiarkannya saja. Jangan juga memintanya untuk memberikan alasan atas keengganannya itu.
Kadang kala ketika pria tidak berbicara kepada istrinya atau tidak berlaku seperti seorang suami yang penuh kasih, hal itu tidak ada kaitannya dengan bagaimana perasaannya kepada istrinya. Kadang kala ia hanya ingin dibiarkan seorang diri dengan pikirannya sendiri.
Kedengarannya mungkin egois ya? Tapi begitulah realitanya. Sebuah riset di sebuah komunitas, mencatat lima cara dicintai yang pria inginkan mengatakan bahwa respon paling umum ketiga (setelah pengakuan dan seks) adalah kebebasan.
Pria ingin melakukan sesuatu yang “menyenangkan” tanpa dibuat merasa bersalah, tanpa helaan napas kekecewaan, atau pernyataan,

For example:
“Jadi kamu lebih pilih … daripada menghabiskan waktu sama keluargamu?”
Tetapi lain cerita jika pria meminta kebebasan untuk melakukan hal yag negatif ataupun meminta waktu untuk ‘bebas’ lebih banyak daripada yang ia habiskan bersama keluarganya. Jika ia lakukan ini, berarti pria tsb memiliki masalah prioritas.
Namun seorang pria ada kalanya butuh waktu untuk melakukan apa yang benar-benar ia nikmati. Sebagian suami merasa bersalah meminta hal ini karna takut dikira tidak berlaku adil terhadap istri yang mengurus rumah dan juga anak.
Wanita pun butuh waktu istirahat sejenak dari rutinitas keluarga. Kaum pria bukanlah kaum yang altruistis, tetapi biasanya mereka peka terhadap sesuatu yang sportif. Wanita akan semakin banyak memiliki waktu untuk ‘me time’ jika ia peka terhadap kebutuhan pria tentang kebebasan.
Intinya kaum wanita bisa menjalankan sebuah hubungan yang baik dengan pria dengan cara menerima kenyataan bahwa ada hal-hal tentang pria yang tidak akan pernah wanita mengerti.
Bahkan kemungkinan besarnya kaum pria sendiri pun tidak dapat memahami dirinya karna adanya “nothing box” tadi di sistem kerja otaknya. Mereka kelihatannya dapat menerima fakta ini dengan lebih baik, sedangkan wanita kerap merasa HARUS memahami pacar/suami mereka.
Wanita sulit menerima bahwa ada beberapa hal yang tidak masuk akal, dan mungkin tidak akan pernah masuk akal tentang pria. Dan disinilah akhirnya, kadang kala wanita harus menerima saja bahwa inilah cara pria.
Kadang ketika ada sesuatu yang menjengkelkan, justru masalah sebenarnya terletak pada kejengkelan itu sendiri. Kita terbiasa membiarkan diri kita terganggu oleh sesuatu yang semestinya biasa-biasa saja atau yang tidak menyenangkan.
Then girls, belajarlah bagaimana cara berkomunikasi dan kapan waktu uanh tepat untuk menyampaikan dengan cara yang sedemikian rupa sehingga pasanganmu bisa berpartisipasi sepenuhnya. Jangan biarkan gangguan-gangguan sepele meracuni hubungan kalian.
Bagian dari hidup bersama seseorang adalah belajar menyesuaikan diri dengan seluruh karakter dan kebiasaannya yang mungkin tidak logis. So jangan bosan untuk mempelajarinya terus-menerus ok?


Source:
1. “What Could He Be Thinking? How a Man’s Mind Really Works” book by Michael Gurian.
2. “The Proper Care and Feeding Of Your Husband” book by Laura Schlessinger.
3. “The Seven Principles for Making Marriage Work” – The Book of Marriage by Dana Mack and David Blankenhorn.
4. Kumparan dot com
5. “For Women Only: What You Need to Know About the Inner Lives of Men” book by Shaunti Feldhahn
6. “The Joy of Promise Kept” by Linda Weber.
7. “Loving Him Well” book by Gary Thomas.
Terima kasih kepada kalian para wanita dan juga pria yang mau belajar dan membaca thread ini sampai selesai. Semoga pengetahuan ini membantu kalian untuk memahami tentang perbedaan cara pikir antar gender dan bisa merespon dengan benar sesuai dengan cara otak pasangan bekerja.
Teorinya kan udah paham.
Nah, sekarang tinggal prakteknya.

Good night, peeps.
#cheerstomarriagelife 🥂
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *