Bersihkan PAN Dari Kaum Munafik

 

Suasana panas jelang kongres masih dalam temperatur yang semakin menaik. Kompromi legal yang dilakukan terhadap DPP sangat alot, hingga penyelenggaraan rapat harian untuk pengesahan SC dan OC saja dipola supaya tak banyak yang hadir. Bagaimana mau hadir undangan rapat disampaikan hanya kurang dari 15 menit sebelum agenda rapat. Memang DPP sudah melewati batas rasional dalam menjalankan roda organisasi.

Dua hari ini kembali terjadi mosi tidak percaya, Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Aceh menyurati Mahkamah Partai, meminta Surat Keputusan (SK) penetapan langsung Ketua T Hasbullah dan Sekjen Irfannusir Rasman dicabut atau dibatalkan karena melanggar AD/ART yakni tanpa melalui musyawarah luar biasa. Hal ini membuat mereka kecewa sama DPP PAN, karena tidak ada dalam AD/ART, sekretaris diangkat menjadi ketua definitif, tapi yang diangkat ada para Wakil Ketua sesuai SK kemarin. Kekecewaan itu ditunjukan dengan menyegeo kantor DPW PAN Aceh, dan ini adalah kali kedua penyegelan setelah permintaan muslub beberapa waktu lalu tidak dilaksanakan. DPW Aceh bisa hanya menjadi peninjau di dalam kongres tahun ini.

Manajemen pengelolaan partai partai yang ricuh, atau mungkin sama sekali tidak dirawat yg akhirnya menjadi polemik panjang tak mampu diselesaikan. Ditambah natizen yang terus menerus mengutuk sikap ZH yang mangkir dari pemanggilan lembaga anti rusuah terkait Alih Fungsi Lahan. Cuitan kasus dana pilkada, politik dinasti ZH dan sederet kasus hukum adik dan kakak ZH mewarnai pemberitaan media. Sungguh rasa bukan tak elok tapi preseden buruk sudah menutupi eksistensi partai.

Tentu kongres kali ini merupakan kongres darurat. Kendatipun demikian usaha-usaha terus dilakukan untuk legitimasi kongres agar sesuai mekanisme.
Kita berfikir bagaimana pelaksanaan kongres ini bisa berjalan dalam kenormalan? Suhu politik yang panas memperebutkan kursi tertinggi di partai itu adalah biasa. Tapi kongres kali ini suhunya tidak biasa, substansinya lemah, dasar hukumnya tidak tepat, ketetapan yang melabrak aturan, memporak porandakan hukum dasar sendiri, bahkan tindak tanduk amoral seolah ini partai sekuler dan milik pribadi.

Ada yang unik dalam tindak tanduk amoral itu, yakni sikap beragama yang salih secara material. Namun prilaku bertentangan. Ini antitesis. Ada yang salah? Tentu ada yang salah. Jika kita membuka Kitabul Qur’an mengenai ciri-ciri orang munafik kita mendapati sebuah keterangan yang tegas yakni _orang-orang yang menyuruh orang berbuat munkar sekaligus meninggalkan yang makruf (baik), dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik_. (QS. At-Taubah [9]: 67)

Biasanya mereka seperti musuh dalam selimut. Suka provokasi juga menolak berbuat kebaikan, berislam secara lahiriah saja, maka wajar jika ketika sendiri atau bersama dengan teman sevisi, seketika melupakan Allah, melupakan kehidupan akhirat. Ciri lainnya mencitrakan diri sebagai pelopor perbaikan padahal sejatinya adalah pelaku kerusakan. (Al-Baqarah [2]: 11)

Wajar partai sebagai wadah perjuangan menjadi rusak. Kongres walaupun dalam keadaan darurat merupakan pintu evaluasi, pintu berbenah diri dan pintu sati-satunya mengadakan perubahan dari dekadensi moral politik. Kongres, kendatipun penuh tipu daya tetapi satu-satunya jalan legal formal dalam _menegakan amar ma’ruf nahyi munkar_ Kongres ini mengetuk pintu langit agar Allah senantiasa membukakan pertolongan kepada segenap keluarga besar PAN, dan bagi yang tersesat semoga segera kembali. Bagi yang menetapi kebenaran semoga istiqamah. Bagi yang waham semoga mendapatkan ketetapan.

wallahu’alam
#TehPAN
#AyoDebatJelangKongres

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *