Dorong Antusiasme Pemilih , Azis Syamsuddin Minta KPU Lebih Kreatif

 

Berusaha keras menekan angka golput agar hasil pilkada memenuhi kriteria keterpilihan. Ini pekerjaan besar bagi KPU,” 

 

JAKARTA, INDONESIAPRESS.NET ,Rabu,18/11/2020 – Konstelasi menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) terus menghangat. Semangat pesta demokrasi meski dibalut dengan kekhawatiran akan pandemi Virus Corona tentu menjadi ujian bagi bangsa Indonesia.

Bagi Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin, Pilkada yang kian dekat, dan menyedot anggaran tidak kurang dari Rp20,4 triliun jangan sampai ternoda dengan klaster baru.

Antusiasme publik jelas menjadi kunci utama suksesnya gelaran pesta demokrasi 9 Desember mendatang. Itu pun harus dibarengi dengan semangat akan pentingnya menjaga diri dari penularan wabah Covid-19.

”Pesta demokrasi merupakan pesta yang paling istimewa. Apalagi pesta kali ini di tengah tantangan bangsa Indonesia menekan lanju angka pandemi Virus Corona (Covid-19). Pilkada harus sukses tanpa klaster baru,” terang Azis Syamsuddin dalam keterangan resmi yang diterima Rabu (18/11/2020)

”Anda bisa bayangkan, di tengah pandemi kita menyelenggarakan hajat besar. Menghabiskan anggaran yang luar bisa. Harapannya, tidak mengurangi antusiasme pemilih dan menghasilkan pemimpin yang amanah,” terang politisi Partai Golkar itu.

Menghasilkan pemimpin yang tanpa disusupi dengan politik praktis dan politik uang adalah harapan besar untuk menghasilkan pemimpin yang lahir dari rakyat.

”Ini adalah sejarah. Di tengah kondisi bangsa yang sedang diuji. Saya yakin kita sanggup bangkit dengan menyuguhkan pesta demokrasi yang diharapkan,” papar Azis Syamsuddin.

Pada kesempatan ini, Azis Syamsuddin berharap, KPU untuk memastikan para pemilih menggunakan haknya sebaik mungkin.
”Berusaha keras menekan angka golput agar hasil pilkada memenuhi kriteria keterpilihan. Ini pekerjaan besar bagi KPU,” tegasnya.

KPU harus intens memberikan sosialisasi secara masif dan intensif sambil memastikan semua pesan bisa sampai kepada masyarakat di berbagai lapisan.

Sosialisasi sangat dibutuhkan agar para pemilih makin memiliki kehati-hatian dalam mengikuti seluruh tahapan hingga hari pemilihan.

”Selain itu sosialisasi juga diperlukan agar pemilih memiliki gambaran bahwa protokol kesehatan sudah dipersiapkan secara matang, mulai dari kondisi TPS, proses pencoblosan, hingga proses penghitungan,” paparnya.

Sementara itu dia juga kembali mengingatkan mengenai perlunya mengoptimalkan sosialisasi melalui media sosial pada masa pandemi guna menghindari adanya kerumunan orang.

”Karenanya perlu upaya kreatif dan unik dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar bisa beradaptasi dengan situasi dan menghasilkan konten-konten digital yang apik dan menarik,” terang Azis Syamsuddin.

Selain media sosial, menurutnya, sosialisasi juga harus diintensifkan melalui media-media massa konvensional, seperti TV, radio ataupun surat kabar.

Karena, jika yang dikhawatirkan adalah tidak semua area memiliki infrastruktur internet yang memadai, maka bisa menggunakan media-media lokal, seperti radio dan televisi yang di setiap daerah ada, serta dapat menjangkau, bahkan sampai ke pelosok pedesaan.

”Yang terpenting adalah sosialisasi protokol kesehatan harus dilakukan secara intensif dan juga diusahakan dapat menjangkau segenap lapisan masyarakat. Semua komponen harus saling melengkapi memanfaatkan segala teknologi yang ada,” pungkas Azis Syamsuddin. (ful)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *