Dukun Dadu , Cerita Si Pongkring (1)



Long thread by :

https://twitter.com/greypunch?s=09

DUKUN DADU

Ini adalah kisah nyata yg dialami oleh teman adik saya. Panggilannya Pongkring. Dlm bhs Jawa, artinya kurus.

Anaknya memang kurus, cara bicaranya lucu, khas anak jalanan.

Cerita ini sy kisahkan dgn bumbu-2 agar menarik, tapi berbasis kisah nyata. 

Profil :
Nama = Pongkring
Tempat Tinggal = Salatiga
Pekerjaan = sopir
Status = berkeluarga
Karakter = ceplas-ceplos, lucu,
pemberani.
Hobi = judi

Soal judi ini sebenarnya adlh hal biasa dlm kehidupan para sopir. Termasuk si Pongkring ini. 

Mulai dari judi kartu, judi ayam, sampai judi nomor “togel” bukan hal yg luar biasa. Sudah biasa malah.

Mulai dari sekedar main-2 kartu biasa. Dilanjutkan dgn uang kecil-2 an. Hingga lama-2 taruhan uang yg cukup besar.

Segala permainan diikuti. Menang dan kalah pun biasa. 

Ketika menang, sering ditantang balik kembali oleh kawan-2 nya yg penasaran.

Ketika kalah, juga timbul rasa penasaran utk bisa menutup


Ia lihat tdk ada orang lain di pinggir sungai. Hanya ada pohon-2 dan rumput.

Langit makin remang. Agaknya sebentar lagi mau Maghrib.

Arus sungai sore itu terlihat agak deras. Mungkin ada hujan di hulu sungai.

Langkah nya pun terhenti di bibir sungai. 

Siap-2 melompat… tapi ada rasa ngeri juga.

Gimana nanti kalo ia tenggelam, tdk bisa bernapas di air, lalu kepalanya pecah terbentur batu. Begitu bayangannya.

Tapi gambaran kengerian itu berganti dgn gambaran para debt kolektor yg selama ini mengejarnya. 

Tapi bayangan sadis muka debt kolektor dan bandar judi yg selama ini mengejarnya, ternyata lebih menakutkan dari bayangan kematian akibat ditelan derasnya air sungai.

Sambil memejamkan mata karena takut dan ngeri, ia pun melompat..!!

Happ…!! 

Pongkring sdh pasrah dgn apa yg akan ia alami nanti. Bayangan tubuhnya terseret arus sungai sdh memenuhi pikirannya.

Tapi ia heran, kenapa rasanya dirinya tdk merasa basah dan bisa bernapas biasa.

Segera ia buka matanya. Ternyata, ia masih ada di pinggir kali. Belum tenggelam. 

Kerah belakangnya ternyata dicengkeram kuat oleh seorang kakek kurus berbaju sederhana.

Nampak seikat kain menghiasi kepalanya. Menutupi rambutnya yg sdh beruban.

“Ngopo, Cah… kok arep nglumpat neng kali? Ra weruh, po… banyune deres koyo ngono? Mengko yen kowe mati, piye?” 

“Mbok kersane to, Mbah… lha wong kula niki langkung sae pejah mawon,” jawab Pongkring.

“Awakmu ki isih enom kok malah pengen mati. Durung wayahe. Masa depanmu isih dowo. Anak bojomu isih ngarep-2…!!”



Di Tempuran Senjoyo itu, banyak orang datang menunaikan “hajat” nya terutama di malam Jum’at Kliwon dan Selasa Kliwon.

Waktu yg dianggap “mustajab”… 🤦🏼‍♂️

Mungkin bagi yg ingin tahu gambarannya, bisa dilihat di video ini.

😐😐😐

Sudah tentu gambaran di video tsb. sdh agak berbeda dgn gambaran dimana cerita ini terjadi.

Di masa itu, suasana mistis di tempat itu lebih kuat dibandingkan masa sekarang.

Apalagi sejak hantu-2 sdh mulai banyak yg ikut shooting… 🤪 

Begitu juga gambaran tempat Pak Harto dimitoskan pernah berendam (kungkum) di sana mungkin tdk sekuat dulu unsur mistisnya.

Tapi setidaknya, ritual kungkum di lokasi Tugu Soeharto sampai saat ini masih dilakukan masyarakat Semarang pada malam 1 Syuro.


Malam semakin larut. Jelang tengah malam, awan tipis menutup sinar bulan.

Di tengah hujan rintik-2, Pongkring menelusuri jln setapak menuju Tempuran Senjoyo yg relatif jauh dari keramaian.

Tadi siang ia sdh survei utk memastikan tempat itu, yg ternyata lain dari yg ia duga.




“Nyuwun ngapunten, Mbah… kulo pun boten sagah ngatasi masalahe kula.” 

“Masalahmu opo, Le?”
“Sambetan kula kathah. Utang kulo numpuk-2 atusan yuta.”

“Bocah nom kok utange wes atusan yuta? Kowe usaha opo?”
“Kula kelah keplek, Mbah…”
“Ooalaah… jebule utang keplek, to…”
“Inggih, Mbah… leres.”

“Kowe gelem tak tulungi opo ora?” 

“Pripun, Mbah? Kula bade dipun utangi malih? Kan sami mawon to, Mbah. Utang kula mboten sudo.”

“Ngutangi, gundulmu amoh…!! Aku ki yo ora gableg duit. Gandeng gaweyanku yo mung tukang kebon.”

“Ooalaah, Mbah… njenengan ora gableg duwit kok bade paring pitulung. Punapa saged?” 

“Wes, kowe menengo. Percaya karo aku. Sing penting, utangmu lunas. Gelem opo ora?”

“Nggih purun, Mbah…”

“Kowe saiki melok aku. Mengko masalahmu tak atasi. Utang keplek dibayar karo keplek!

“Ayo, bali nang omahku…” 

“Inggih, Mbah…” sahut Pongkring sambil mengikuti langkah si Mbah yg berjalan pelan tertatih-2 tapi tdk tampak lemah.

Menerobos jalan setapak, bersemak-2, cuma sebentar, tahu-2 udah sampai di pinggir jalan lumayan besar.

Tidak sebesar Jalan Raya Semarang – Solo tapi. 

Sbg seorang sopir yg biasa pegang angkot di Salatiga, jalan yg terpampang di hadapan dia terasa asing.

Meski suasana sdh gelap dan Maghrib barusan lewat, biasanya dia masih mengenali sudut-2 jalan tempat biasa ia lewat.

Tapi ini jalan yg berbeda. Suasana juga hening. Mencekam. 

Serangga malam yg biasa ia dengar tdk muncul. Sayup-2 ada suara burung malam. Entah gagak, entah burung “orang mati”… tdk begitu jelas.

Dari jauh nampak datang mobil angkot warna gelap. Sejenis Colt Station.

Angkutan plat hitam yg biasa buat narik penumpang di situ. 

Lampu depannya menyala suram. Lampu kabin mati. Colt itu berhenti tepat di depan mereka.

Si Mbah bergegas masuk dan duduk di bagian tengah pinggir jendela. Disusul Pongkring duduk di sampingnya, di pinggir koridor.

“Sragen,” cetus si Mbah pelan. Dan angkot itu pun mulai melaju. 

Tak lama, Pongkring mencium bau yg aneh di dlm angkot. Antara bau bunga, bau anyir darah, dan bau bangkai busuk bercampur baur.

Sebuah aroma yg tak mungkin ia lupakan seumur hidup nantinya.

Sambil menutup hidung, ia layangkan pandangannya ke belakang. 

Nampak di pojokan duduk (seperti nya) seorang perempuan berambut panjang kusut.

Wajahnya melengos samping, tdk terlalu jelas. Sesekali kena sorot cahaya luar jendela. Matanya nampak bersinar merah.

“Agaknya bau busuk asalnya dari dia,” duga si Pongkring dlm hati.

Tiba-tiba… 

Wajah bermata merah itu menoleh, menatap mata Pongkring dgn sorot mata merah menyala. Senyum menyeringai. Sedikit ketawa aneh…

Sbg anak jalanan, sdh biasa Pongkring ketemu hal yg aneh-2 dan menegangkan.

Tapi tatapan mata si perempuan tadi, bukan lah ketegangan yg biasa… 

Cepat-2 ia palingkan muka ke depan. Di kursi depan di hadapannya.

Tadi saat masuk ke angkot, ia memang tdk sempat perhatikan kursi bagian depan. Ia hanya bergegas masuk menyusul si Mbah.

Setelah diperhatikan, ada yg agak janggal dgn penumpang yg duduk di depannya. 

Di depannya duduk seorang penumpang. Sendiri menghadap ke depan. Badannya tertutup badan kursi. Hanya nampak kepalanya saja.

Bukan hal yg aneh sebenarnya. Memang demikian posisi duduk normal penumpang di angkot Colt di situ.

Keanehannya adalah… 

Kepala itu tiba-2 berputar 180⁰ ke belakang. Tepat berhadapan muka dgn muka.

Wajah gundul menyeramkan, melengkung rata halus seperti pantat piring. Tdk terlihat hidung dan mulut.

Hanya itu detil yg masih diingat Pongkring, karena ia langsung pejamkan mata. 

Meski matanya terpejam, Pongkring tetap bisa merasakan sorot aneh yg menghujam jantungnya. Hingga berdetak kencang.

Sesuatu yg blm pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Saat degup jantungnya mereda, ia beranikan diri membuka mata. Menatap ke depan pelan-2…

Degg… 

Sosok menyeramkan di depannya sdh tdk ada. “Kemana dia?” tanyanya dlm hati.

Segera ia menoleh ke samping, menatap Si Mbah yg enak-2 tidur.

“Sialan…!” batinnya pd si Mbah yg enak-2 tidur itu. Seolah nggak ada yg aneh dgn angkutan ini. 

Segera pandangannya ia alihkan ke arah pintu mobil yg terbuka jendela nya. Tdk ada kernet di situ. Bukan hal yg aneh.

Tapi saat ia menatap ke jendela yg terbuka, Pongkring merasa ada yg janggal.

Ia melihat gerak bayangan pohon di luar cepat sekali. 

Seolah mobil ini ngebut di atas 100 km/jam. Suatu hal yg tdk mungkin krn sbg sopir, ia tahu persis medan di daerah situ.

Jalan tdk terlalu besar, jalanan tdk rata, bahkan ada yg blm diaspal.

Di samping itu, ada bbrp pasar atau perempatan ramai yg kita tdk bisa ngebut di situ. 

Belum habis rasa herannya, terdengar seruan lirih si Mbah, “Stop, Pir…” dan mobil pun berhenti mendadak.

Anehnya, si Pongkring tdk terjatuh ke muka sbgmn biasa kalo kita naik mobil berkecepatan tinggi saat direm mendadak.

Tanpa pikir panjang lagi, si Pongkring bergegas turun. 

Mendahului si Mbah karena dia duduknya di koridor, sehingga memang hrs turun duluan.

Sepintas ia melihat si Mbah membayarkan sesuatu ke sopir. Dan ia yakin itu bukan buang.

Sekilas seperti kunyit, tapi tdk terlalu jelas. Krn ia sadar, dirinya bukan di tempat yg biasa. 

Mulai lah ia melihat-2 tempat sekitarnya. Agaknya mobil tadi berhenti di halaman depan sebuah komplek mirip bangunan sekolah SD di desa.

Lampunya tdk banyak yg menyala. Gelap dan suram.

Ia lihat si Mbah berjalan menyusuri gang kecil di belakang bangunan. 

Mobil angkot tadi sdh lenyap. Entah kapan perginya. Tapi kok pagar penutup gerbang tdk terbuka.

Lewat mana itu mobil?

Tapi ia sdh tdk peduli lagi. Diikutinya si Mbah dari belakang. Di depan ada bangunan kecil dari tembok separo. Sisanya adalah papan kayu.

“Iki omahku, Le…” 

“Yo mung ngene iki omahku. Ora gede. Jane asline bangunan iki duweke sekolah. Aku mung numpang. Jenenge wae tukang kebon.”

Note = Tukang Kebon = Pak Bon, adalah semacam pesuruh honorer di lingkungan sekolah negeri di masa itu. 

“Nyuwun sewu nggih, Mbah… daleme njenengan ini etangane masuk wilayah pundi?”

“Iki Gemolong, Le… Sragen.”

Degg…

Dilihatnya jam dinding di rumah si Mbah. Masih pukul 18.40. Perkiraan tadi berangkat dari Salatiga, udah lewat Maghrib. 

Perjalanan +/- setengah jam dari Salatiga – Sragen pake angkot yg aneh.

Seingat dia, tdk ada trayek Salatiga – Sragen sekali jalan. Minimal hrs ganti 2-3 kali angkutan. Apalagi secepat ini.

“Wes, saiki ngaso-wo. Dikepenakke awakmu. Yen pengen ngeteh, gaweyo dewe ning nggandok.” 

“Sesuk esuk, tangiyo esuk. Kowe bakal tak wejang. Tak tulungi ben masalah mu enggal rampung.”

“Nggih, Mbah… matur nuwun sakderenge.”

“Iyo kono… ndang lereno. Aku tak ududan ndhisik.”

Maka malam itu kedua orang itu saling bercakap-2, bercengkerama menyambut malam. 

Secara singkat, mereka berkenalan. Bercerita ttg diri mereka masing-2.

Si Mbah meminta dirinya dipanggil Mbah Lompong saja. Krn dulu di masa mudanya, dirinya tinggal di kebun Lompong. Yakni sejenis pohon Tales/Talas di Jawa.

Istrinya tinggal di desa sebelah. Sesekali ia pulang. 

“Wes wengi, kowe ndang turu-wo. Sesok isuk, kowe tangiyo, sadurunge aku nyambut gawe resik-2 ning sekolah.”

“Nggih, Mbah… njenengan nggih bade mapan sare?”

“Durung sek, Le… aku arep semadi ndhisik. Madhep marang Gusti.”

Maka, Pongkring pun berangkat tidur di bale-2 depan. 

Dgn berbagai peristiwa yg terjadi seharian tadi, Pongkring pun tertidur pulas krn kelelahan.

Sekitar pukul 03.30 pagi, mukanya terasa dingin. Ternyata air dingin dicipratkan ke mukanya oleh Mbah Lompong.

“Tangi, Le… !!”
“Nggih, Mbah…” kata Pongkring terkantuk-2. 

Pongkring diminta bersih-2 dulu. Selain agar kantuknya hilang, juga sbg adab dari suatu perbincangan “suci”.

5 jam tidur tampaknya sdh cukup. Apalagi tidurnya sngt pulas. Tidur yg berkualitas, katanya.

Setelah bersih-2, Pongkring pun menuju kamar tempat si Mbah sedang menunggu. 

Di kamar yg tdk terlalu besar itu, tdk banyak dihiasi perabot. Temaram oleh bohlam lampu 10 W.

Cuma ada lemari jati pintu kaca, sebuah tikar yg digelar, dan sebuah meja kecil di tengah-2 tikar dgn sesisir pisang raja di atasnya.

Tercium aroma kemenyan. Padahal semalam blm ada. 

Pandangan Pongkring pun terpaku pada lemari berpintu kaca transparan. Semeteran lebih tingginya.

Bukan lemarinya yg menarik, tapi isinya.

Ia melihat ada bbrp keris dgn berbagai ukuran. Kesannya berbeda dgn keris-2 yg selama ini pernah ia temui.

Ada aura khusus yg ia tdk paham. 

Selain itu di bagian tengah ia lihat ada semacam cemeti (pecut) aneh. Panjangnya mungkin ada 1 meteran. Sepintas seperti rantai emas yg digulung rapi.

Artistik dan mistik. Blm pernah ia lihat benda itu seumur hidupnya.

Di bagian lain nampak gada kecil berwarna kuning emas. 

Ingatannya melayang, terbit gambaran ttg gada kecil milik Sang Mahapatih Gajah Mada.

Mbah Lompong terlihat duduk bersila di pinggir tengah tikar. Di depan meja kecil tadi.

“Lungguho, Le… “
“Nggih, Mbah…”
“Rungokno temenan omonganku yo, Le… ” 

Selama kurang lebih 1 jam Mbah Lompong memberikan wejangan nya, yakni sampai +/- jam 5 pagi.

Karena setelah itu, Mbah Lompong sbg Pak Bon sekolah sdh hrs bersih-2 melaksanakan tugasnya. Yakni bersih-2 halaman dan gedung sekolah.

Dan tepat pkl 06.00 pagi, Pongkring pamit pulang. 

Kebetulan hari itu pas hari Kamis. Tar malem adlh Jum’at Kliwon. Pongkring hrs persiapkan baik-2 semua yg diwejang oleh Mbah Lompong.

Bungkusan hitam yg diberikan oleh Mbah Lompong disimpan rapat di kantong bagian dalam.

Isinya ada kotak kecil 2 biji dan bbrp kotak besar. 

Oleh Mbah Lompong, ia sdh diberi tahu apa isi bungkusan tsb. Tapi tdk boleh dibuka sampai Senin pagi, atau rencana akan gagal total.

Bagi Pongkring, sdh tdk ada pilihan lain. Tadinya ia tdk ingin percaya. Tapi setelah adanya pengalaman aneh semalam, mau tdk mau ia hrs percaya. 

Hanya ini peluang satu-2 nya. Atau ia bakal mati. Mati dibunuh atau mati bunuh diri. Sebuah pilihan yg mematikan.

Setelah sarapan bubur sekedarnya, ia pun mencari angkutan. Angkutan normal tentunya. Bukan seperti yg semalam.

Maka, berangkat lah ia menuju…

TEMPURAN SENJOYO 

Apa itu TEMPURAN SENJOYO?

Tempuran adalah pertemuan 2 atau lebih aliran sungai. Dlm dunia mistik Jawa, pertemuan 2 kali adalah tempat yg wingit (ada kekuatan mistis).

Kalo jaman sekarang, pertemuan 2 kali kok udah minta jadian… 😆 

Di kalangan spiritualis Jawa, ada beredar kisah-2 orang penting yg bertapa di tempuran sungai.

Salah satu yg terkenal adalah Pak Harto yg dulu di masa mudanya pernah bertapa (semedi) di tempuran sungai Kaligarang, Semarang.

Kelak di situ dibangun situs yg disebut TUGU SOEHARTO. 

Apakah itu mitos atau tidak, sy tdk tahu. Tapi setidaknya, itu yg pernah sy dengar.

Adapun TEMPURAN SENJOYO adlh tempat bertemunya 2 kali, yaitu Kali Tuntang dan Kali Senjoyo.

Biasanya, arus sungai di tempuran tsb. deras dan berbahaya. Sering ada pusaran air. 

Kali Senjoyo adalah sungai yg sumber airnya berasal dari Sendang Senjoyo, sebuah sendang yg dikenal keramat (mistis).

Sedang Kali Tuntang, airnya bersumber dari G. Merbabu dan Rawa Pening.

Keduanya bertemu di suatu tempat disebut TEMPURAN SENJOYO.
dgn kemenangan agar kekalahannya minimal bisa impas, atau syukur-2 malah lebih.

Begitu lah si Pongkring ini terjebak dlm lingkaran setan. 

Tanpa disadari lama-2 Pongkring pun terjebak dlm kubangan utang yg cukup dalam.

Karena setiap kali ia kalah, ia selalu terjun kembali utk mengalahkan lawan-2 nya.

Awalnya uang lebihan sopir ia pakai. Begitu masih kurang, uang setoran ia embat. 

Kalo ditanya pemilik mobil, jawabnya, “Penumpang lagi sepi.”

Saat tilepan setoran tdk cukup, akhirnya ia mulai jual barang-2 berharga di rumahnya. Mulai dari perhiasan sampe brg elektronik.

Kalo ditanya istrinya, ia bilang, “Buat modal usaha. Nanti pasti balik.” 

Tapi ternyata nasib baik belum berkenan menghampiri. Kekalahan demi kekalahan di meja judi terus dialami.

Hingga akhirnya ia pun memberanikan diri berutang kpd bandar judi dimana ia sering main judi.

Dgn tetap berharap, suatu saat ia bisa menang dan menutup kekalahannya. 

Dan juga bisa membayar utang-2 nya.

Tapi apa daya, kemenangan tdk juga ia raih. Sementara utang makin menumpuk hingga ratusan juta.

Harta di rumah sdh tdk ada. Kerjaan sopir juga terbengkalai krn pemilik mobil sdh tdk mau lagi mobilnya dipegang Pongkring. 

Hampir tiap hari rumahnya didatangi centeng-2 nya si Bandar dan orang-2 lainnya yg pernah ngasih utang ke dia.

Gak keitung brp kali ia lari ke Semarang utk sembunyi di tempat adik, dari kejaran para debt kolektor.

Saat itu, perjalanan Salatiga – Semarang adlh 1 jam naik bus. 

Hingga sampai lah ia mengambil keputusan fatal.

BUNUH DIRI !!

Ya… sebuah keputusan yg paling mudah yg bisa ia ambil.

Berharap kematiannya nanti bisa menyelesaikan semua masalahnya yg menumpuk. Termasuk soal utang-2 nya yg sdh sampai ratusan juta itu. 

Siang itu ia jalan sendiri pulang ke Salatiga setelah pamitan dgn adik.
Katanya, “Mau balik ke rumah.”

Mungkin krn sdh lama sembunyi di kota Semarang, bisa jadi ia kangen keluarga. Dan bisa jadi situasi sdh aman dari kejaran debt kolektor.

Begitu lah dugaan adik saya… 

Tapi dugaan adik sy salah. Ternyata Pongkring tdk pulang ke rumah.

Setelah bus yg ia tumpangi berhenti di Salatiga, Pongkring tdk balik ke rumah. Tapi ia pergi ke arah Kali Tuntang.

Kali Tuntang adalah sebuah sungai yg cukup besar yg ada di sekitar Salatiga. 

Sore itu, saat ia sampai di pinggiran Kali Tuntang, hari sdh beranjak petang.

Suara aliran sungai yg bergemericik dan angin sepoi-sepoi yg semilir di pinggir kali ternyata tdk mampu mendinginkan pikirannya yg sedang kalut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *