Hate Speech Bayaran

 

seorang peneliti semestinya cerdas dalam melontarkan pendapat atau pandangan bukan asbun seperti itu

Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai kemenangan, baik cara yang etis maupun cara yang diluar keetisan. Namun kedua cara itu belum tentu akan menghantarkan pada kemenangan malah sebaliknya bisa jadi memporak-porandakan pertahanan. Dan kita harus yakin bahwa ada campur tangan Allah dalam sebuah kemenangan demikianpun kekalahan. Tapi kita banyak melihat, untuk memperoleh kemenangan dilakukan berbagai cara meskipun harus memfitnah.

Mulfachri sejak berikrar maju calon ketua umum terus menerus ditempa fitnah, dituding membawa lari uang kantor, dianggap tidak bekerja apa-apa, bahkan Dian Permata, katanya seorang peneliti dengan tiba-tiba menuduh Mulfachri memanfaatkan Hanafi dalam menambah suara, dia mengkait-kaitkan dengan politik dinasti. Lho kok kontradiksi? Apa kaitannya MH dengan dinasti? Padahal MH bukan saudara tiri Hanafi bahkan bukan pula sepupu apalagi adik kakak kandung. Perlu diketahui, MH tidak melibatkan satupun keluarganya di dalam politik praktis, dimana letak dinastinya? Kecuali kalau mengkondisikan adik-adiknya menjadi ketua DPW, Ketua DPD, menjadi Bupati atau menetapkan anak kandung sebagai wakil ketua DPRD itu baru politik dinasti. Toh MH tidak ada satupun keluarga yang terlibat dalam soal politik.

Dian Permata, menurut penulis bukan seorang peneliti melainkan hanya penulis bayaran yang membranding diri sebagai peneliti. Sebab seorang peneliti itu dalam menyampaikan sesuatu harus berdasarkan data yang akurat, valid, dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menyesatkan. Dalil seorang peneliti adalah kebenaran untuk suatu langkah yang akan diambil dalam menetapkan sesuatu atau kegiatan, atau berupa informasi yang merupakan suatu petunjuk.

Seorang peneliti bersikap obyektif, teliti, terbuka dan adil. Peneliti harus memiliki data yang lengkap serta memiliki sumber informasi _primer_ dan memiliki tingkat validitas yang terpercaya serta dapat dipertanggungjawabkan. Peneliti juga harus memiliki cara berfikir yang terstruktur, kritis-logis dan independen. Whitney menyebutkan beberapa syarat bagi peneliti, yaitu harus memiliki nalar yang kuat, ilmiah dan logis, memiliki tingkat kewaspadaan terhadap perubahan, akurat dan jujur (jujur secara intelektual, jujur secara moral dan dapat dipercaya).

DP dengan tetiba mengatakan MH memanfaatkan Hanafi bahkan menuduh berhendak menjadikan PAN sebagai wadah politik dinasti, itu mendapat informasi darimana? Jika menilik syarat peneliti, DP bukan seorang peneliti tapi lebih cenderung sebagai _orang suruhan_ dengan mendelegitimasi diri sebagai peneliti. Mengapa demikian? Sebab DP berkata tanpa data primer, yakni sumber utama yaitu MH dan Hanafi, jadi tidak valid dan tidak bisa dipercaya sebab dilihat dari sisi manapun DP bicara tanpa nalar, tanpa data, tidak obyektif bahkan tidak adil malah ini berupa fitnah dan _hate speech_.

DP sangat telanjang dalam memfitnah MH dan Hanafi, sangat benderang diperintah seseorang untuk menyerang MH. Padahal semakin keras menuduh MH semakin terlihat kalau itu sebuah perintah atau bayaran. Darimana tahu? DP tidak memiliki substansi dalam melemparkan serangan terhadap MH, karena seorang peneliti semestinya cerdas dalam melontarkan pendapat atau pandangan bukan asbun seperti itu.

Percayalah, bahwa setiap kalimat itu memiliki makna, sebaris kata menghantarkan pesan. Sebuah kalimat fitnahan akan mencerminkan kualitas dirinya sendiri. Maka jika mengaku seorang peneliti maka perkataannya harus mencerahkan dan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan data yang benar bukan karena suruhan.

#TehPAN
#HitunganJamJelangKongres
#KongresBermartabat
#CukupSatuPeriode

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *