Jangan Jadi Keledai

 

Ketiga adik ZH menjadi tersangka lembaga Anti Rusuah, pemberitaan media santer terus menyoroti sikap ZH yang mangkir dari pemanggilan KPK. PAN bukan cuma oleng karena posisi buncit di parlemen tapi juga pucuk pimpinan yang dalam sorotan publik. Politik dinasti lebih cenderung dan rentan kasus hukum dan tindak kesewenangan. Kisah ketua DPW yang notabene adik ZH disebut-sebut sangat jumawa. Rasanya sesak dada karena tidak banyak contoh yang dipertunjukan sebagai teladan bagi kader hari ini.

Kongres sudah dalam hitungan jam, media gencar menelanjangi status hukum petahana, SK kepanitiaan belum terbit, informasi penyelenggaraan masih buta, tidak banyak calon peserta, peninjau dan penggembira mendapat informasi yang utuh tentang kongres. Banyak peninjau tidak kebagian tempat menginap. Bahkan panitia pun gugup karena ada seksi-seksi yang belum sekalipun mengadakan rapat.

Kongres macam apa ini ?
Dalam status saksi dan mangkir dari pemanggilan _Badan Anti Rusuah_ sang petahana masih bisa melempar isue, kembali Playing victim seolah pihaknya benar lalu menuduh pihak lain seolah memfitnah, menuduh pihak lain melakukan kecurangan padahal dia yang curang. Mengklaim diri seolah disudutkan, dijatuhkan bahkan di black compaign. Argumen sekenanya dan tidak mau kompromi, sepihak dan otoriter.

Bukan hanya tindak tanduk personal yang membuat kepala _kleyengan_ dibuat ZH tetapi secara kelembagaan dibuat amburadul. Kasus PLT alot dalam pembahasan rapat SC. DPD dan DPW yang di PLT kemana mencari perlindungan ? Kemana mencari keadilan? Meskipun beberapa DPD mengajukan permohonan pembatalan kepada Mahkamah Partai, apakah akan ditanggapi?

MP, tidak banyak punya kemampuan dalam memutus perkara. Konon pemgaduan ke MP sangat mahal jika ingin di proses. Banyak kasus mangkrak, apalagi jika MP sudah tidak lagi netral. Soal kepesertaan ini pun rentan pasalnya, banyak tangan besi yang PLT tidak sesuai jalur hukum, tidak mendukung petahana langsung PLT.

Memang, hari ini yang dihadapi ZH tentu bukan persoalan yang sederhana. Tiga orang saudaranya yang tersandung kasus hukum tidak bisa disederhanakan. Apalagi kasus hukum yang dihadapi ZH sudah dipelupuk mata. Kita seolah diingatkan dengan kasus hukum partai sebelah, sang ketua umum diciduk menjelang pemilu, akhirnya perahu oleng. Apakah PAN menuju nasib yang sama ?

Kita memerlukan pemimpin yang bersih, tegas, cerdas dan jauh dari politik dinasti. Jangan karena sedang berkuasa semua keluarga dilibatkan, ikut-ikutan mengatur partai. Baru datang langsung menduduki posisi mentereng, seolah memiliki _privilege_ lalu melenggang punya kuasa, serasa partai milik sendiri. Ada juga petinggi partai yang merasa menguasai sehingga sangat sibuk hingga tenggelam didalamnya, maklumlah gula-gula manis mahar pilkada terlalu sayang jika digarap sesuai prosedur. Maka pilkada bisa membuat kaya segelintir orang kendatipun partai miskin tidak punya apa-apa, walaupun hanya sekedar kantor berlantai 2.

_Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak merubah nasibnya sendiri_ (QS. Ar Radh :11). Masa depan partai sangat tergantung peserta kongres, nasib peserta kongres bergantung pada kualitas SC, berlangsungnya kongres bergantung pada OC. Jika semua kaum bersepakat menginginkan suksesnya kongres dan memutuskan perkara yang baik, menghasilkan evaluasi partai dan melahirkan pemimpin masa depan, yang tangguh dalam menakhkodai perahu PAN, maka mari kita berubah. Mari berkontribusi dalam kongres ini sesuai tugas kita. Sukseskan dengan memilih yang terbaik dan minim kelemahan, dan terpenting adalah bersih dari kasus hukum.

Voters mesti cerdas dalam memilih calon ketua umum yang akan datang, para peninjau harus cerdas berkomentar, para penggembira mesti cerdas dalam menyikapi dinamika, cari informasi yang lebih detil agar tidak berkomentar asbun alias cuma ikut-ikutan komentar. Kualitas dan keseriusan kita menghadapi kongres itu cermin dari kualitas diri kita. Setiap segala sesuatu akan terseleksi oleh alam secara kasat mata, maka seperti itulah realitasnya. Mari berkongres untuk mempersiapkan masa depan PAN, berikan hal pilih kepada yang pantas dipilih. Berikan dukungan kepada yang pantas didukung.

Jangan bertindak bodoh seperti keledai, jatuh pada lobang yang sama. Sudah tahu cacat masih saja disebut bagus. Sudah tahu barang rijek masih saja dibilang terbaik. Sudah tahu tidak berkualitas masih saja dipaksakan. Katakan yang baik itu baik dan katakan yang buruk itu buruk. Jangan katakan berbaju padahal telanjang. Sudah tahu itu telanjang masih saja dikatakan syar’i. Jangan menipu voters dengan iming-iming. Jangan pula berbuat busuk lalu menuduh orang lain yang melakukannya. Mari kita satukan kata satukan hati, mari pilih pemimpin yang berani.

#TehPAN
#MariDebatJelangKongres

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *