Kado Kecil Mahasiswa UGM untuk Pemukim Gambut

IndonesiaPress.net, Indonesia memiliki 22,5 juta hektar lahan gambut menurut Global Wetlands, dan duduk di peringkat kedua setelah Brazil yang memiliki 31,1 juta hektar. Lahan gambut berperan strategis bagi dunia, seperti mengikat karbon dan menyimpan air. Tetapi hidup di atasnya, bukanlah soal yang mudah.

“Untuk membuat sumur bor, biayanya Rp8 juta sampai Rp9 juta, di kedalaman sekitar 16-20 meter. Airnya cukup bening tetapi masih ada rasa asamnya. Selama ini kami lebih banyak memakai air hujan. Kalau mau mandi, air coklat tidak masalah. Kalau mencuci yang warnanya putih, nanti dibilas,” kata Suhartono.

Air berwarna coklat tua kehitaman adalah kondisi biasa di lahan gambut. (Foto: Humas UGM)

Suhartono adalah Camat Rasau Jaya, yang masuk Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Yang dia sebut sebagai air coklat, adalah air tanah. Jumlahnya melimpah, tetapi sebenarnya tidak sehat. Namun, tak ada banyak pilihan bagi Suhartono dan juga jutaan warga Indonesia yang tinggal di atas lahan gambut, baik di Sumatera, Kalimantan maupun Papua. Warna coklat itu, adalah konsekuensi karena material organik, terutama kayu yang tercampur dalam air.

Suhartono yang tinggal di Rasau Jaya sejak kecil mengatakan, kawasan mereka mengalai penurunan kualitas air. Sekitar tahun 70-an, kenangnya, air yang menggenang tak jauh dari rumah-rumah warga relatif jernih. Perlahan-lahan warnanya semakin pekat dan bahkan jika dimasukkan ke dalam bak di kamar mandi, persis seperti minuman kopi. Air itu kini tak lagi dikonsumsi warga, dan tampungan hujan yang jumlahnya terbatas menjadi andalan.

Untuk keperluan khusus, kata Suhartono, selama ini warga harus membeli air bersih menggunakan tangki. “Misalnya ada yang sedang hajatan, kami harus beli air dari Pontianak. Satu tangki harganya bisa sampai Rp 2 juta,” ujarnya.

Solusi Murah ala Mahasiswa UGM

Warna air yang coklat itu karena kadar Total Suspended Solid-nya mencapai 232 mg/L. Angka itu menunjukkan residu padat yang ada di setiap satu liter air. Sifatnya juga asam, dengan power of hydrogen (pH) hanya 3-4 saja. Mereka yang tak terbiasa, bisa mengalami gatal atau iritasi jika menggunakan air itu. Warga yang tinggal di atas lahan gambut, tubuhnya telah beradaptasi. Meski begitu, bagaimanapun air yang digunakan warga itu, sebenarnya sama sekali tidak sehat.

Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang datang ke Kabupaten Kubu Raya dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mencoba membuat terobosan. Tentu saja, mengebor tanah untuk mencari sumber air yang lebih jernih bisa menjadi pilihan. Namun, dengan biaya mahal seperti diceritakan Suhartono tadi, solusi itu tidak ideal.

Karena itulah, menjernihkan air yang melimpah di lahan gambut menjadi jalan keluar yang lebih baik. Kuncinya, kata Fuad Atthoriq, mahasiswa Teknik Kimia UGM yang terlibat dalam program ini, solusi itu harus mudah dan murah agar dapat diaplikasikan setiap warga.

Setelah merancang instalasi penjernihan air, mereka memompa air sungai ke dalam bak penampungan. Langkah pertama adalah memasukkan klorin dan senyawa penaik pH. Untuk menurunkan padatan yang tercampur dalam air, Fuad memakai senyawa Poly Alumunium Chloride (PAC). Setelah dicapur PAC, padatan akan turun mengendap dan terpisah dari air jernih di bagian atas.

Perbandingan air yang belum (kiri), dalam proses (tengah) dan sudah dijernihkan (kanan). (Foto: Humas UGM)

“Setelah prosesnya selesai, kita lewatkan filter, dan menjadi air bersih seperti ini. Mengenai analisis ekonominya, untuk 500 liter air ini hanya membutuhkan biaya Rp4 ribu saja. Jadi memungkinkan warga untuk mereplikasi instalasi ini,” kata Fuad.

Instalasi pertama yang dibangun mahasiswa UGM berada di Puskesmas Rasau Jaya. Selama ini, seperti juga mayoritas warga di kawasan itu, konsumsi air bersih mayoritas dipenuhi dari air hujan. Karena itu, instalasi pengumpul air hujan dari atap bangunan adalah hal yang biasa ditemui di sana. Masalah muncul ketika musim kemarau datang.

Proses penjernihan air yang dilakukan Fuad dan kawan-kawannya, terhenti untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Diperlukan langkah tambahan untuk menjadikan air yang sudah jernih itu dapat dikonsumsi. Fuad masih harus berhitung biaya yang ditanggung masyarakat untuk sampai ke tahap itu. Namun setidaknya, air yang lebih jernih dan sehat ini bermanfaat dan mengurangi ketergantungan pada air hujan.

Warga Coklat dari Vegetasi Terendam

Pakar konservasi tanah dan air dari Fakultas Kehutanan, UGM, Ambar Kusumandari menjelaskan, warna coklat adalah konsekuensi air lahan gambut.

“Lahan gambut terbentuk karena vegetasi yang terendam dalam waktu sangat lama, kemudian mengalami perombakan atau dekomposisi. Itu seperti merendam pohon atau tanaman nanti warna airnya akan menjadi seperti itu. Di Jawa, banyak orang merendam bambu, pasti airnya akan menjadi seperti teh,” kata Ambar.

Air di lahan gambut juga bersifat asam karena pH yang rendah. Karena itu, bagi masyarakat yang ingin menggunakan air di lahan gambut, pH-nya harus dinaikkan terlebih dahulu. Meski begitu, Ambar mengakui bahwa mereka yang tinggal di atas lahan gambut dan sudah memanfaatkan air itu sejak lahir, cenderung bisa menerima keasamannya karena kepekaan tubuh yang menurun.

“Di lahan-lahan yang berkembang dengan bahan induk gambut, mayoritas seperti ini. Di Sumatera, di Kalimantan, mayoritas kalau yang lahan gambut, ya seperti ini,” tambah Ambar.

Selain Brazil di urutan pertama dan Indonesia di bawahnya, Kongo, Cina dan Kolombia adalah penghuni lima besar pemilik lahan gambut dunia. Di urutan ketiga, Kongo memiliki 11,5 juta hektar, diikuti Cina dengan 8,4 juga hektar dan Kolombia memiliki 7,5 juta hektar.

Dari 22,5 juta hektar lahan gambut di Indonesia, Provinsi Papua mendominasi dengan 6,3 juta hektar, diikuti Kalimantan Tengah (2,7 juta), Riau (2,2 juta), Kalimantan Barat (1,8 juta) dan Sumatera Selatan (1,7 juta), Papua Barat (1,3 juta), Kalimantan Timur (0,9 juta). Ada juga Kalimantan Utara, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan yang masing-masing memiliki lahan gambut sekitar 0,6 juta hektar.

Di semua wilayah itulah, masyarakat yang tinggal di atasnya akan mengalami masalah yang sama terkait ketersediaan air bersih. Kado kecil mahasiswa UGM ini, meski belum sampai ke tahap layak konsumsi, setidaknya berpotensi membantu jutaan warga hidup lebih sehat, jika teknologi yang murah itu diterapkan di setiap wilayah gambut. [ns/lt]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *