Lakukan Pelanggaran AD/ART 5 DPD Gelar Musdalub Kolektif Jelang Konggres

 

Kesemenaan dan tindakan ketidakadilan seolah sangat biasa. Inilah yang dimaksud dengan egosentrisme kepemimpinan, dia akan melakukan apapun yang disuka bukan melakukan sesuatu berdasarkan peraturan dan mekanisme yang berlaku.

Laporan : Eneng Humaeroh
Bendahara DPP PAN

INDONESIAPRESS.NET,-Belum usai aksi protes DPW/ DPD yang tiba-tiba di PLT, bahkan sampai menginap berhari-hari di DPP dalam rangka menuntut keadilan telah diperlakukan tidak adil oleh pucuk pimpinan DPP dan aksi mereka sama sekali tidak ditanggapi, kembali jagat internal PAN dihebohkan dengan penyelenggaraan Musdalub mendadak dan kolektif di 5 DPD PAN Maluku Utara pada tanggal 25.12.2019 jam 14.00. Peserta masing-masing DPD yg hadir adalah : Kab. Halmahera Selatan 2 orang, Kab. Halmahera barat 3 orang, Kab. Halmahera timur 1 orang, Kab. Halmahera Utara 3 orang dan Kab. Taliabu kosong, (tapi tetapi ada ketua terpilih). Sedangkan dari DPW yg hadir hanya 6 orang dari 37 pengurus DPW.

“Ini tanggung jawab POK uk melakukan supervisi. tapi yah dia sendiri pelakunya” kata Jaorana salah satu wasekjen DPP PAN. “Luar biasa sepak terjang petahana untuk mempertahankan kekuasaan”, lanjut Jaorana.

Protes terhadap penyelenggaraan Musdalub ini disampaikan oleh pemgurus DPP lainnya, Chandra Tirta Wijaya yang memgatakan Musdalub tidak memenuhi syarat dalam AD ARt kita bahwa Musdalub harus di usulkan secara resmi oleh 2/3 DPC (pengurus Kecamatan) didukung 2/3 DPRt (pemgurus ranting). Musdalub nya kolektif kolegial bersamaan”, ujar Chandra dengan geram.

Pengurus lainnya menyampaikan kritik tajam atas tindakan sepihak dan melawan AD/ART partai.
Namun anehnya kritik ini tidak digubris sama sekali.

Kecurigaan sebagian besar para Dewan Pengurus Harian terkait pelanggaran AD/ART partai akan terus dilakukan oleh kubu petahana demi mendapat dukungan dan kemenangan pada kongres mendatang.

Tindakan melawan hukum dan ketentuan partai dilakukan dengan massiv bahkan terang-terangan.

Tindakan ini bukan hanya merusak agenda kongres tetapi tindakan ini benar-benar brutal dan membabi buta. Kesemenaan dan tindakan ketidakadilan seolah sangat biasa. Inilah yang dimaksud dengan egosentrisme kepemimpinan, dia akan melakukan apapun yang disuka bukan melakukan sesuatu berdasarkan peraturan dan mekanisme yang berlaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *