Lestarikan Budaya Melalui Pembuatan 2.400 Wayang Kertas

Sebanyak 2.400 mahasiswa baru Universitas Surabaya (Ubaya) membuat wayang kertas Punakawan secara bersama-sama. Kegiatan ini selain untuk mengenalkan dan melestarikan budaya bangsa, juga berhasil memecahkan rekor MURI.

Sebanyak 2.400 wayang kertas (karton) tokoh Punawakan, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, dibuat oleh mahasiswa baru Univeristas Surabaya, Jumat (2/8). Kegiatan ini merupakan bagian dari masa orientasi bersama (MOB) yang mengangkat tema Budaya dan Apresiasi Keberagaman.

Rektor Univeristas Surabaya, Benny Lianto mengatakan, kegiatan ini ingin mengajak generasi muda kembali mengenal dan mencintai budaya bangsanya sendiri Benny berharap semakin banyak anak bangsa yang mencintai dan melestarikan budaya luhur bangsa, melalui pengenalan dan pemberian wawasan mengenai budaya yang ada di Indonesia.

“Kita ingin memperkenalkan, karena dalam masa orientasi bersama ini kan temanya memberi apresiasi terhadap keberagaman. Salah satunya keberagaman budaya. Nah, generasi muda, generasi milenial juga harus kita ajak supaya mereka paham, dan peduli, dan tahu bahwa budaya bangsa ini demikian luas, demikian banyak. Oleh karena itu, melalui acara ini mereka kita kenalkan, sehingga mereka bisa tumbuh rasa cinta terhadap budaya,” kata Benny Lianto.

Pembuatan wayang dan bermain wayang bersama ini juga dalam rangka memecahkan rekor di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), untuk kategori Pemrakarsa dan Penyelenggara Merangkai Wayang Kertas Terbanyak oleh Mahasiswa. Menurut Direktur Museum Gubug Wayang, Cyntia Handy, pemecahan rekor MURI bertujuan mengajak generasi muda khususnya mahasiswa untuk ikut serta memajukan budaya bangsa, yang katanya merupakan kearifan lokal di setiap daerah.

“Tentunya dengan kegiatan pemecahan rekor MURI ini, pembuatan wayang kardus (karton) menjadi representasi bagi kita, terutama buat anak-anak muda dalam hal pemajuan kebudayaan, bersama-sama kita menguri-uri (melestarikan) kebudayaan. Representasinya kita benar-benar bergandengan tangan untuk membuat MURI dalam hal menjaga kearifan lokal, dalam bentuk wayang,” kata Cyntia Handy.

Mahasiswi Universitas Surabaya, Lo Kezia mengaku sangat senang belajar membuat wayang secara langsung, meski hanya berupa wayang kertas (karton). Pengenalan ini, kata Kezia, akan semakin membuka pemahaman generasi muda mengenai kekayaan seni dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, salah satunya adalah wayang.

“Kita sebagai anak muda kan, jarang tuh mengenal wayang, wayang dari mana, dari daerah mana saja kan kita tidak tahu. Nah, sekarang kita lagi belajar tentang wayang, wayang itu apa saja, siapa saja,” kata Lo Kezia.

Anggela Fitriani, mahasiswi baru Universitas Surabaya juga mengungkapkan kegembiraannya dapat membuat wayang, yang selama ini hanya melihat melalui pertunjukan dan di televisi. Ia berharap seni dan budaya bangsa Indonesia tetap lestari melalui kepedulian generasi mudanya.

“Senang bisa tahu, lebih tahu kebudayaan Indonesia yaitu wayang, dan lebih bisa mengerti kelau pembuatan wayang bagaimana. Kalau misalnya tampilan itu kan cuma menonton saja, tapi kalau misalnya sekarang kan bisa sekalian membuat. (Berharap) Lebih dilestarikan dan lebih dikembangkan lagi, supaya orang-orang yang di luar sana itu tidak meremehkan kebudayaan Indonesia,” kata Angelina Fitriani. [pr/lt]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *