Menolak Tradisi PAN dan Kembalinya Paradigma Ke Masa Lalu

Eneng Humaeroh, Bendahara DPP PAN
S2 Filsafat Univ. Paramadina

Coretan ini dibuat untuk menanggapi tulisan Romy Moreno yang bertitel “Bursa Caketum PAN : Pentingkah Mempertahankan Tradisi? yang dimuat Kumparan/28/12/19.

Bursa Caketum PAM Pentingnya Mempertahankan Tradisi

Dalam tulisan ini Romy menulis bahwa PAN memiliki tradisi Ketua Umum satu periode, yang menurutnya kurang tepat, apabila sebagai partai reformis PAN mengedepankan tradisi, dia mencoba menunjukan beberapa argumentasi untuk melawan tradisi yang dibangun PAN pasca Orde Baru, namun argumentasi yang disuguhkan sangat bertabrakan satu dengan yang lainnya. Ia mengatakan bahwa tradisi itu sendiri tidak tercipta dengan kesengajaan, dan dengan niat atau kesadaran.

Tapi ia mengatakan kekalahan Hatta sebagai takdir bukan tradisi. Katanya takdir berpihak pada Zulkifli Hasan saat pemilihan Ketua Umum di Kongres 2015 dengan keunggulan 6 suara dari Hatta. Adalah “takdir”, bukan “tradisi”, yang menggugurkan Hatta menjadi Ketua Umum PAN untuk kedua kali berturut-turut.

Selain itu ia menyebut bahwa tradisi adah sesuatu hal yang baik dan benar, dan menyuguhkan fakta-fakta mengenai perolehan kursi PAN sepanjang pemilu pasca Orde Baru. Romy menulis bahwa; Sementara dari ukuran objektivitas, ukuran “kebenaran” yang sesuai fakta apa adanya, salah satu ukuran kesuksesan partai dilihat dari perolehan kursi di legislatif. Sejak partisipasi pertamanya di Pemilu 1999, relatif selalu menjadi partai medioker. Prestasi terbaik PAN, berdasarkan dari data lembaga survey Pollmark, adalah di 2004, ketika mencapai 53 kursi dari 560 kursi DPR RI (sekitar 9,4%). Selebihnya, PAN relatif stagnan bergerak di antara 40-50 kursi. Dan itu adalah ukuran “kebenaran” faktual sepanjang Pemilu setelah era Orde Baru.

Pada paragraph lain dia meragukan satu periode kepemimpinan sebagai suatu metode yang digunakan PAN dalam meregenerasi kepemimpinan dan perolehan kursi. Dan pada paragraph lain ia menulis tidak ada akan lahir reformasi jika mempertahankan tradisi.
Romy sedang mencoba menganalisis bahkan mencoba menjudge salah atau keliru tradisi yang diciptakan PAN dengan metode satu periode kepemimpinan. Disini saya ingin menunjukan argumentasi Romy yang acakadut bahkan terlihat asal hanya karena ia ingin menunjukan diri sebagai loyalis Zulhas, bahkan tulisan Romy menunjukan bahwa ia sangat tidak memahami kondisi politik internal PAN apalagi sejarah berdirinya PAN yang dilahirkan sebagai cita-cita mewujudkan suatu pembaharuan dan peradaban bangsa.

Diawal tulisan ia menyebut dirinya sebagai warga baru di PAN. Benar sekali pernyataan itu, sebab saya menyaksikan seorang Romy yang dibawa Zulhas pada beberapa saat menjelang pencalegan, Zulhas memperkenalkan Romy sebagai kader PDIP yang hendak nyaleg di PAN di pileg 2019. Dan ia tidak pernah hadir pada rapat-rapat harian. Pada Romy hadir pada rapat harian yang heboh karena palu sidang menghilang. Ia tercatat sebagai Wasekjen, pertanyaanya, kapan sidang Pleno yang menyatakan Penggantian Antar Waktu Pengurus harian DPP, dan SK mana yang menerbitkan pengangkatan Romy sebagai kader PAN.

Sama halnya seperti Rizki Aljupri, Epiyardi, Faldo bahkan dan nama-nama lain yang suka berteriak di media menyebut dirinya kader muda, tapi tidak pernah ikut pelatihan pengkaderan, jelas saja tidak faham apa itu PAN apalagi sejarah PAN,mereka duduk manis dengan posisi strategis tanpa penerbitan SK. Ini menjelaskan betapa amburadulnya pengelolaan partai era Zulhas, siapapun asal ada di kubunya boleh masuk dan bicara tanpa memahami rambu-rambu platform partai sehingga merusak partai dengan terang-terangan.

Kembali ke soal Romy, ia mengkritisi tradisi PAN yang ia tidak faham sama sekali, faktanya adalah :

1. Amien Rais menggagas berdirinya PAN pada Agustus 1998, sebagai pendiri ia langsung didaulat sebagai Ketua Umum, tak ada kongres. Kondisi politik pada saat itu mengharuskan partai langsung mengikuti pemilu 1999.

2. Pada tahun 2004 PAN memperoleh 53 kursi dari 560 kursi DPR RI (sekitar 9,4%). PAN itu masa kepemimpinan Amen Rais hasil kongres pertama, tahun 2000, lalu pada kongres 2005 estafet kepemimpinan diserahkan ke tangan Soetrisno Bachir. Namun Amien Rais melakukannya tetap dengan mekanisme yang berlaku agar estafet kepemimpinan terjadi melalui jalur demokrasi, andaikan Amien Rais mau ia pasti terpilih kembali sebagai ketum sebagaimana partai-partai yang lain yang lahir pada waktu bersamaan.

3. Keterpilihan Zulhas pada kongres 2015 di Bali adalah kerja keras Amien Rais sebagai pendiri PAN yang tidak rela tradisi estafet kepemimpinan dihancurkan oleh ambisi kekuasaan Hatta Radjasa. Kekalahan Hatta bukan semata “takdir”namun karena tradisi yang sedang dibuat PAN tidak boleh hancur oleh ambisi kekuasaan.

4. Statement tradisi ”Satu Periode Ketum PAN” digaungkan dalam jejak rekam digital Zulhas dalam upaya menghentikan laju popularitas Hatta dalam kongres silahkan dilacak, bahkan banyak saksi mata saksi dengar atas pernyataan Zulhas dalam tradisi yang dibangun PAN. Jika Zulhas menganulir statement lima tahun lalu, bukan kita lihat sebagai statemen politik melainkan moral politik, apabila moral politik tidak menjadi dasar prilaku seorag Ketua Umum itu artinya ia melabrak norma dan pondasi yang dibangun partai. Kalimat apa yang pantas untuk diungkapkan kepada seseorang yang ingin menguasai rumah sedangkan pondasi rumah dia hancurkan?

5. Tradisi tidak selalu subyektif, justri tradisi PAN adalah hipotesis terhadap antithesis tradisi Orde Baru yang selalu mempertahankan tampuk kepemimpinan, mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara bahkan kezaliman yang diklaim sebagai kebijakan. Amien Rais meruntuhkan antitesis Orde Baru dengan tradisi “Satu Periode” sebagaimana Amien menggaungkan suksesi kepemimpinan dalam system presidensial.

Terasa naïf sekali pernyataan Romy yang mencoba menafikan sosio engineering yang dibangun Amien Rais melalui PAN dalam mengubah tradisi lama menjadi tradisi baru yang justru tradisi mempertahankan kekuasaan itu adalah sumber kerusakan, kezaliman dan symbol keserakahan. PAN hadir sebagai sosio engineering agar egalitarianisme tertancap di bumi Indonesia, siklus politik harus berjalan sebagai sunatullah demokrasi, bukan ambigu dan prilaku hipokrit persis seperti ungkapan Bretherton, demokrasi adalah poses yang never-ending untuk menjadi sistem yang lebih baik sepanjang waktu, demokrasi merupakan “work in progress”, yang artinya proses yang selalu berjalan tidak bersifat final. (yang dikutip oleh Romy).

Sedangkan secara teori tradisi adalah sesuatu yang diwariskan dari masa lalu ke masa sekarang, memiliki tujuan dan menunjukan hubungan langsung (sejarah), membuat harmonisasi kehidupan, saling menghargai dan menghormati. Tradisi memberikan legitimasi pandangan hidup dan merupakan identitas kolektif suatu masyarakat dan sebagai alat menuju kedaulatan.
Jadi mempertahankan kekuasaan atau menolak tradisi “Ketua Umum PAN Satu Periode“ adalah menolak kenyataan tradisi “work in progress” yang diciptakan dalam reformasi dan kembali kemasa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *