PAN , Kemana Suaramu ?

 

#TehPAN
#ManaHas

 

Partai Amanat Nasional, saat viral di media menjelang dan selama kongres adalah kontroversi antara prilaku dengan platform partai. Media mencatat aksi brutal partai berlambang matahari putih bahkan aksi kekecewaan bagi para kader menyumpahi tindakan brutal seperti watak para preman. Entah apa yang merasukinya. Ibarat pepatah jauh panggang dari api, jauh dari karakter dan egosentris itu masih terus berlangsung seolah tak ada lagi rasa malu.

Banyak kader berharap, slogan _Bela Rakyat Bela Umat_ bukan sebatas tageline kampanye tetapi menjadi spirit dalam perjuangan idiologis dalam berpartai. Namun nyatanya nihil aksi, yang kini Nampak adalah tenggelam dalam euphoria kemenangan kongres dengan terus asik menuduh penantang yang kalah. Tak cukup sampai disitu, aksi pembantaian dengan istilah bersih-bersih PAN pun menjadi aksi egois dan kepongahan. Istilah bersih-bersih dibuktikan dengan aksi pecat ketua-ketua DPD yang tidak seirama, serta pergantian AKD tanpa mempertimbangkan kapasitas yang mumpuni atau seimbang. Egosentrisme sangat tampak dan jumawa kekuasaan.

Tapi, itu tidak menjadi persoalan penting, selama partai mampu menunjukan tageline perjuangan dan melakukan pembuktian bahwa keberadaan PAN memang sebagai wadah berjuang untuk kesejahteraan masyarakat. Aksi itulah yang ditunggu kader selama ini. Sejak merebaknya wabah covid-19 publik menanti gebrakan yang dilakukan partai reformis ini dalam memberantas wabah. Tetapi nyatanya hanya sebuah riakan kecil saja berupa bagi-bagi masker atau semprat semprot. Ibarat kapal besar namun hanya membawa muatan berupa kapas dan tisyu beberapa kantong saja, seolah-olah jangan sampai tidak ada aksi sama sekali. Sedangkan diluar sana para relawan tidak pernah berhenti bahu membahu memerangi wabah tanpa mengenal waktu.

Harapan yang besar disematkan bahwa PAN turut serta memikirkan upaya pencegahan dan penanggulangan wabah melalui wadah perjuangan besar. Namun tidak ada sayup-sayup pun, malah hening taka da suara, apakah partai sedang mengalami lockdown? Kemana tageline _Bela Rakyat Bela Umat_ itu? Tak terdengar sama sekali kalimat ataupun tindakan ril dilapangan. Atau memang sudah masuk pada zona nyaman dan tidak perlu lagi beriklan agar dipilih rakyat? Sedangkan hari ini rakyat menanti bukti para wakil rakyat membuktikan janji-janjinya.

Saat infeksi wabah semakin tinggi, pemerintah menerbitkan Perppu Nomor 1 Tahun 2020, public serta merta menyampaikan kritik terhadap Perppu tersebut terlalu jauh dari esensi yang hari ini dibutuhkan. Public berteriak tetapi anggota DPR kita santai saja, apa jangan-jangan tidak faham apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan? Terkadang lucu jika partai bangga dengan perolehan kursi bagi para pendatang baru alias bukan kader, berusia muda, memiliki privilege atau popularitas lainnya. Nyatanya tidak memiliki kualitas bahkan meledang saja dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Sedangkan, saat wabah corona merebak diam-diam DPR membahas RUU Omnibuslaw, isunya kejar target agar bisa segera terselesaikan. Public pun bertanya, dimanakah kepekaan nurani para wakil rakyat itu? Sedang kontroversi RUU tersebut akan menghilangkan sebagian hak-hak kaum buruh, dan makinmemarjinalkan kaum _proletarian_ didalam kelas masyarakat. Memperbesar kesenjangan social serta memperburuk nilai-nilai keadilan. Sedang saat kini kaum proletar yang paling merasakan dampak wabah corona, dan pada masa recovery kaum inilah yang berada pada jumlah terbanyak. Pada saat yang sama RUU Omnibuslaw berlaku, dan mereka akan semakin termarjinalkan dan kehilangan kelayakan dalam hidup.

Apakah jika Negara tidak mengundang para investor itu masuk ke Negara ini, Negara ini akan jatuh miskin? Faktanya hari ini rakyat tetap tidak mendapatkan manfaatnya dari nilai investasi yang katanya sedang mengalami peningkatan. Pembangunan yang ada tidak menjadikan solusi mengurangi angka pengangguran, sebaliknya malah TKA yang mendapatkan manfaat, sedang rakyat hanya sebagai penonton sambil menahan lapar diperutnya. Apakah Negara tidak memiliki cara lain dalam membangun Negara ini? Untuk apa kalian mendapatkan gaji besar dan menduduki jabatan apabila tidak kompeten dalam menyelesaikan persoalan bangsa ini.

Jika itu tetap terjadi maka kalian ikut membiarkan Negara ini dirusak secara sadar dan terencana. Atau apakah ini buah dari demokrasi liberal yang dibangun sehingga kalian merasa telah selesai melakukan kontrak social dengan partisipan sehingga tak ada lagi tanggungjawab moral untuk membela saudaramu yang kurang beruntung dengan cara melindungi mereka melalui sebuah undang-undang yang berkeadilan?

Saudaraku, kami mengetuk pintu hatimu, lakukanlah hal terbaik dalam mewujudkan rasa adil untuk saudaramu diluar sana, sebab kalian memiliki tangan yang panjang untuk melakukannya dan memiliki lidah untuk menyampaikannya. Agar tageline _Bela Rakyat Bela Umat_ berkumandang di negeri merah putih ini. Kalian punya kesempatan besar untuk berjuang, jangan hanya sekadar pajangan di AKD, jangan hanya sekedar prestige. Perdengarkanlah suara, agar kami masih melihat bahwa kalian ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *