PAN Mau Jadi Ayam Atau Singa

 

 

Oleh : Eneng Humaeroh. DPP PAN

Mengikuti perkembangan partai reformis dari mulai berdiri hingga kini rasanya terlalu jauh melenceng dari platfom dan idiology partai. Rindu dan harap tentang keberadaan PAN menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan dan kesewanangan, nyatanya malah jauh panggang dari api, partai yang notabene berdiri sebagai perwujudan runtuhnya orde baru kini hanya sebagai pengekor bahkan penjilat.

PAN pernah menjadi harapan dan tumpuan masyarakat, menjadi wadah perjuangan yang melekat pada paradigma modern. Namun harapan itu tak seperti sinar matahari tetapi mengalami gradasi Idiologi dan paradigma menjadi pragmatis sarat transaksional. Partai menjadi indifferens dengan partai yang lain, tidak memiliki kekuatan cenderung lemah tidak memiliki daya saing.

Meskipun perolehan suara PAN pada pileg 2019 menurun dari 48 kursi menjadi 44 kursi dengan total perolehan suara 9.572.623 atau sekitar 6,8%. Namun menilik pada angka itu PAN merupakan aset bangsa yang semestinya memiliki power dan kewibawaan bukan merubah warna biru menjadi abu-abu. Tidak jelas sikap dan pandangannya. Bukan rahasia jika PAN dituding meminta-minta jabatan pada penguasa dan ini menjadi bully-an natizen. Sikap ini sangat memalukan bagi sebuah partai reformasi.

Sikap itu merupakan bentuk lain dari mental yang dimiliki PAN, sebagai locomotif, ketua umum adalah simbol dari mental yang dipunyai. Bagaimana PAN punya daya jual, daya saing bahkan daya tawar yang mumpuni apabila mentalnya rendah. Ibarat kata, jika mental itu berwujud ayam ya hanya bisa berkokok tetapi tidak punya gigi. Memiliki sayap namun tidak bisa terbang bahkan mental ini pula hanya makan sisa-sisa atau remah-remah yang jatuh dari piring makanan orang.

Mental ayam tidak mampu unjuk gigi karena tidak punya gigi, di negara yang kaya raya inipun sang ayam tidak mampu memakan makanan yang istimewa karena tidak mampu mengunyah. Itulah mentalitas PAN hari ini.Tidak mampu mengunyah potensi besar hanya mampu menelan soal-soal kecil dan remeh saja.

MH menyebut, PAN pemilik saham sebanyak 6,8% di negeri ini semestinya tampil gagah, percaya diri dan mampu unjuk gigi. PAN tidak perlu minder bahkan harusnya mampu menjadi pengendali sekian banyak harta kekayaan bangsa ini. Bagaimana caranya? Ketua umum harus mampu men-drive partai dan mampu mengkapitalisasi setiap potensi yang ada di partai dengan perhitungan yang matang, integtitas dan intelektualitas serta keteguhan. Ketua umum tidak perlu meminta-minta jabatan atau merendahkan diri dihadapan partai lain, apalagi hanya mengekor.

Dengan modal 9,6 juta pemilih PAN harusnya berperan penting, tetapi faktanya hari ini PAN tidak mampu mengolah isu nasional menjadi gagasan penting dalam menciptakan kebijakan yang berpihak pada seluruh anak bangsa. Hanya persoalan pragmatis saja yang menjadi konsen seperti perolehan kursi, menaikan popularitas person atau tawar menawar kursi mentri, namun bagaimana partai memiliki bargaining jika infrastruktur tidak terawat dan akar rumput yang gamang yang disebabkan tidak konsistennya sikap partai.

MH ingin mengembalikan partai pada semangat awal yang selalu menjadi rujukan fraksi-fraksi lain dalam mengolah gagasan dan membuka kebijakan yang berefek pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai differensiasi dengan yang lain yang mampu menggagas berbagai Undang-undang serta kiblat pembaharuan. MH bertekad menciptakan kembali nuansa dialogis intelektual, agar setiap kader mampu eksplorasi kemampuan diri menciptakan ide-ide yang briliant dalam berbagai perspektif. Dengan merekam kembali jejak MAR sebagai _guiden_ dalam masalah-masalah kebangsaan.

Tekad itulah sebagai spirit bagi MH demi _Mewujudkan Harapan_ menjadi _singa_ dalam percaturan politik. MH telah ditempa dengan lebih dari cukup. Pengalaman mengawal sejarah reformasi, bertarung dalam konstelasi politik praktis serta sering mengambil peran yang sulit sekalipun. Bahkan dalam kondisi berada diluar pemerintahan MH mampu berkomunikasi dengan pihak-pihak lain sehingga PAN eksis di lembaga legislatif.

Menjadi _singa_ tak harus menjilat, tak harus menjual idiology partai tetapi dengan teguh pendirian, percaya diri serta konsisten dalam jalur perjuangan. MH yakin persoalan hari ini dapat diselesaikan dengan _kemauan_ yang keras, terukur, dan tentu menggunakan data agar tidak asbun. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *