forum humas bali

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Unggulan Nangun Sat Kerthi Loka Bali

Bali – Rabu (10/7), Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali mengadakan Kegiatan Forum Koordinasi Kehumasan Provinsi Bali dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat melalui Program Unggulan Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. Bertempat di Ruang Rapat Sandat Diskominfos Provinsi Bali.

Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali, I Nyoman Sujaya didampingi oleh Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali, Agus Suryawan.

Narasumber yang hadir yaitu A.A Gede Oka Wisnumurti dengan pembahasan “Peranan Humas Dalam Menyukseskan Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, Ni Made Ras Amanda Gelgel dengan pembahasan “Perubahan Perilaku Masyarakat Di Era Digital”, Wayan Juniarta dengan pembahasan “ Komunikasi Publik Di Era Disruptif”.

Dalam sambutannya, I Nyoman Sujaya mengatakan dengan melaksanakan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Forum Koordinasi Kehumasan ini diharapkan mampu memainkan peran penting sebagai pejabat maupun seseorang yang menjalankan fungsi kehumasan.

“Anggota Forum ini merupakan ujung tombak dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. Peran Humas dalam forum ini berkewajiban menyampaikan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, untuk menghindari ketumpangtindihan program pembangunan.

Karena dalam visi Nangun  Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, program pembangunan adalah satu jalur, terintegrasi demi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Bali,” ujarnya saat membuka Forum Koordinasi Kehumasan.

Saat ini telah dijalankannya program “Bali Smart Island”. I Nyoman Sujaya menjelaskan bahwa Diskominfos Provinsi Bali mengemban tugas memperluas akses internet dengan pemasangan Wifi gratis di 1681 titik dalam rangka mewujudkan “Bali Smart Island” dengan tujuan pemerintah yang cepat, bersih serta pelayanan publik yang prima.

“Dengan pemasangan Wifi gratis, diharapkan tidak ada lagi wilayah di Bali yang tidak terjangkau layanan internet. Dengan penyediaan internet gratis, diharapkan muncul kreativitas dan inovasi dari masyarakat Bali sehingga menumbuhkan ekonomi kreatif yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Bali,” jelasnya.

A.A Gede Oka Wisnumurti mengatakan tugas humas adalah mereformasi dalam mengelola informasi dan menyebarkan informasi sekecil apapun harus ada di setiap kehumasan maka diperlukan Skill Publik Speaking bagi anggota humas. “Humas pekerjaannya Universal tetapi harus mampu menjangkau semua kalangan. Selain itu, tidak hanya menjalankan tugas kedinasan namun menjadi pusat pengolahan data informasi,” ujarnya.

Saat ini sedang banyak diberitakan mengenai Sistem Zonasi pada pendaftaran siswa baru, A.A Gede Oka Wisnumurti berpendapat bahwa dalam Sistem Zonasi diharuskan setiap sekolah dapat dijangkau oleh masyarakat, selain itu Sistem Zonasi mempunyai tantangan yaitu agar masyarakat Bali mampu sekolah sampai ditingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) khusus bagi masyarakat di pedalaman.

Ni Made Ras Amanda Gelgel yang juga dosen Ilmu Komunikasi dari Unversitas Udayana Bali mengatakan saat ini internet sudah memasuki ruang privasi tiap individu dengan contoh membawa Handphone (HP) kemana saja termasuk toilet.

Terjadi perubahan perilaku, dahalu terdengar ucapan “jangan hanya menonton Televisi (TV) saja” tetapi sekarang menjadi “jangan hanya memegang dan melihat Handphone (HP) saja”. Di tahun 2019, durasi menonton Televisi (TV) lebih sedikit dibandingkan dengan melihat internet. Rata-rata pencarian pengguna internet lebih banyak ke bidang hiburan dibandingkan bidang edukasi dan politik.

Dari data yang didapat memperlihatkan 355 juta nomor telepon aktif di Indonesia yang dimana lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk Indonesia, dan 88% pengguna internet membuka aplikasi Youtube maka pemerintah perlu mempunyai akun Youtube agar akses informasi lebih cepat tersampaikan kepada masyarakat luas. Selain itu, 87% masyarakat lebih nyaman berkomunikasi lewat internet daripada bertemu langsung.

Dengan ada internet maka terjadi penyakit sosial diantaranya Nomophobia atau kepanikan dengan gejala yang dialami seperti Kepanikan jika tidak membawa Handphone (HP) dan Phubbing dengan gejala yang dialami yaitu tidak peduli dengan lingkungan sekitar seperti contohnya saat berjalan kaki cenderung lebih memperhatikan Handphone (HP) yang nantinya akan membahayakan diri sendiri.

“Perkembangan internet menjadikan informasi mampu tersebar dengan cepat namun timbullah Hoax yang diciptakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang dimana Hoax adalah informasi tidak benar yang meresahkan masyarakat luas. Alasan masyarakat mudah terkena hoax yaitu terbiasa tidak membaca isi berita dan malas berpikir untuk mencari kebenaran dari informasi yang didapatkan.” ujar Ni Made Ras Amanda Gelgel.

Wayan Juniarta yang juga seorang Jurnalis Senior, Pejabat Pemerintah, Seniman, Tokoh Masyarakat, hingga Aktivis di Bali, mengatakan pola interaksi sosial berubah dimana saat ini masyarakat lebih menyukai berkomunikasi lewat internet daripada bertemu langsung dan dari data yang didapat memperlihatkan jumlah 150 juta pengguna sosial media. Wayan Juniarta menyarankan agar humas beralih dari media cetak atau tulisan ke media visual yaitu Youtube karena masyarakat saat ini lebih menyukai menonton Youtube dibandingkan membaca koran.

Selain itu, Wayan Juniarta bercerita mengenai perkembangan internet yang sangat pesat yang mengakibatkan informasi dapat diakses oleh masyarakat dengan praktis maka dari segi keamanan negara akan terancam dikarenakan oknum-oknum yang ingin berbuat kejahatan akan dengan mudah mengakses informasi milik negara. Seperti halnya yang terjadi di Pangkalan Militer Amerika Serikat yang berhasil diserang oleh Gerakan Taliban, 2 tahun yang lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *