Pilkada Serentak Di Tengah Pandemi Covid-19 Tak Bawa Perubahan

“Pilkada serentak di tengah pandemi Covid-19 tak bawa perubahan yang signifikan bagi proses pembangunan daerah ke depannya,”

Wasis Wiseso Pamungkas

IndonesiaPress.net – Pemilihan kepala daerah atau pilkada serentak di tengah pandemi Covid-19 selain membutuhkan biaya besar, juga tak akan bawa perubahan bagi proses pembangunan.

“Pilkada serentak di tengah pandemi Covid-19 tak bawa perubahan yang signifikan bagi proses pembangunan daerah ke depannya,” kata peneliti Indekstat Indonesia, Wasis Wiseso Pamungkas, S Pt di Medan (foto), Kamis (4/6).

Dia menanggapi Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang meminta dana tambahan sebesar Rp535,9 miliar untuk pelaksanaan Pilkada 2020 pada 9 Desember mendatang di 270 daerah.

Dana tambahan berkenaan dengan pilkada yang dihelat di tengah pandemi Covid-19.

Dana tambahan itu bakal dipakai membeli alat pelindung diri (APD) untuk para petugas penyelenggara pemilu.

Di antaranya, masker, baju pelindung diri, sarung tangan, pelindung wajah, tong air, sabun cuci tangan, tisu hingga cairan disinfektan.

Selain itu, tambahan anggaran tersebut juga akan digunakan untuk membeli masker bagi para pemilih sebanyak 105 juta orang sebesar Rp 263,4 miliar.

Kemudian, pembelian alat kesehatan bagi petugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan Panitia Pemutakhiran Data Pemilih sebesar Rp 259,2 miliar.

Menanggapi hal ini, Wasis mengungkapkan jika disetujui, maka akan menjadikan pilkada serentak berbiaya mahal.

“Tetapi tak membawa perubahan yang signifikan bagi proses pembangunan daerah ke depannya,” ujarnya.

Dipaksakan

Menurut Wasis, penerapan hidup new normal yang terkesan dipaksakan sekali ini juga berimbas pada meningkatnya anggaran pilkada serentak yang dibutuhkan.

Pasalnya, pemerintah harus menjamin pesta demokrasi ini tak menyebabkan terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di berbagai daerah yang melaksanakan pilkada.

Selain itu, Wasis juga menyoroti banyaknya kepada daerah yang berpeluang maju sebagai calon petahana pada pilkada serentak Desember mendatang.

Ia menilai, sebagai calon petahana para kepala daerah incumbent memiliki kesempatan yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan calon penantang lainnya.

Hal ini disebabkan karena calon petahana tersebut memiliki kesempatan yang jauh lebih luas.

Terutama, untuk bersosialisasi secara langsung dengan masyarakat, meskipun dilakukan dalam cover kunjungan kerja dan sebagainya.

“Tidak bisa dipungkiri, kepala daerah yang akan maju sebagai calon petahana memiliki ruang gerak yang lebih bebas dari penantangnya,” ujarnya.

Sosialisasi dirinya sebagai calon petahana juga dapat disisipkan dalam program-program penanganan Covid-19 ini.

Sementara di sisi lain, calon penantang petahana memiliki keterbatasan ruang gerak, akibat harus menjalankan protokol kesehatan yang ketat.

Dilarang berkerumun, mengumpulkan masa, atau bahkan imbauan untuk tidak keluar rumah.” imbuh Wasis.

Wasis memprediksi bahwa komposisi kepala-kepala daerah hasil pilkada tahun 2020 ini tidak akan banyak berubah dari periode sebelumnya.

Hal tersebut juga menyebabkan berbagai kebijakan dan proses penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak akan banyak berubah.

Lebih lanjut, Wasis mengatakan bahwa hal itu sedikit banyak juga akan mempengaruhi konstelasi politik secara nasional di tahun 2024 mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *