REJUVENASI PETANI

Indonesiapress.net – Ramai berseliweran di linimasa, Indonesia sedang krisis petani muda. Populasi petani yang berusia dibawah 35 tahun hanya 4% dari total seluruh petani. Ini ancaman bagi sektor pertanian yang menyumbang 13% PDB. Jika PDB tahun 2017 sejumlah 13.588T, berarti sektor ini menyumbang 1.766T.

Pertanyaannya, jika petani muda berada di kisaran 4%, lalu siapa yang melanjutkan sektor ini kedepannya?

Penurunan kontribusi sektor pertanian pada PDB ini sebenarnya sudah terjadi lama. Tahun 1991, pertanian menyumbang 21% terhadap PDB. Walau PDB waktu itu hanya 118 miliar USD, berbeda tentu hari ini yang 1T USD lebih.

Tetapi bagaimanapun, dari 1991 ke 2017, kontribusi sektor ini falling down … decrease… dari 21% ke 13%. Ini berarti tergerus 8%. PARAH.

Kenapa? Ya karena sudah jelas, tidak ada regeneraai petani muda.

Di sisi berita baik, Saya senang… linimasa meributkan hal yang substansial, diangkat CNN Indonesia, dibahas para penggerak pertanian, dan jadi tulisan dimana-mana. Dari senang bergosip murahan, kita sedang bertransformasi jadi bangsa ber-NARASI. Saya bahagia.

Namun disisi lain, mari renungkan hal ini mendalam. Sektor pertanian, perkebunan, perikanan… adalah sektor yang menopang pangan. Dalam Social Progress Index, pangan ini terletak didasar kebutuhan manusia : basic needs.

Jadi… jika kita sebagai entitas bangsa TIDAK MAMPU menopang nasib PERUT anak negeri, maka ketahanan nasional bangsa ini sedang terancam.

Tulisan Saya kali ini adalah usaha untuk menjawab permasalahan regenerasi ini. Semoga bermanfaat. Tidak ada menyalahkan siapapun. Tidak berniat memojokkan siapapun. Tulisan netral. Gak ada hestek anu anu… hehehehe…

*****

“Anak muda… ayo kembali ke sawah. Berkorbanlah, bangun desa, jangan memikirkan karir di kantoran!!!”

Menurut Saya ini ajakan orang tua yang gak ngerti masalah utama. Ajakan ini jelas bukan dari usia millenial. Kalimat diatas menurut Saya tidak berempati sama sekali.

Masalahnya bukan anak muda gak punya hati sama pertanian. Masalahnya ada pada bisnis model yang BERANTAKAN.

Anda bisa bayangkan, pertanian yang reguler panen hanya 2x setahun. Coba Anda hitung biaya benih, pupuk, perawatan, selama 1x masa panen per 1 hektar lahan, lalu bandingkan dengan revenue hasil panen. Dapatkan selisih positifnya, lalu bagi 6 bulan… apakah cukup untuk hidup? Apakah merangsang anak muda kita untuk bertani?

Sekarang ini, petani yang punya sawah aja MELAKNAT anaknya kalo jadi petani lagi.

“Le… jangan jadi petani kayak bapak.. sengsara… awas lho le… jadi orang besar di kota… jangan kayak bapak….”

Dan terbukti kok, para petani ini desperate. Mereka menjual hektaran sawahnya. Ini bukti putus asa. Kalo berharap anaknya bertani, kenapa dijual?

Petani existing saja KAPOK bertani. Lebih memilih menjual lahan sawah. Lahan sawah produktif telah berubah fungsi 110 ribu hektar per tahun… dan kita kehilangan 506 ribu ton beras per tahun. Ini parah blasssss.

Maka, solusinya sederhana, PETANI harus mendapatkan IMBAL HASIL yang sepadan, besar, menggiurkan.

Jika jadi petani bisa 15 juta per bulan, gak usah disuruh pulang pak, kami anak muda bangsa ini akan garap jutaan hektar lahan negeri ini. Mikirnya kesini seharusnya. Jangan disuruh BERKORBAN hidup sengsara di lahan pertanian. Semoga sepakat.

Oke ya… kita kunci solusi dasarnya : BIKIN PETANI SEJAHTERA.

*****

Sekarang langkah teknisnya, Saya sampaikan beberapa, takut kepanjangan, dan supaya Saya ada bahan narasi juga di Offline.. hehehehe… jangan semuanya dibuka… #peace

Dari 20 poin yang Saya siapkan, kita buka 5 poin dulu ya….

1. Mengevaluasi alur proses bisnis sektor pertanian dari hulu ke hilir, dari A to Z.

Proses bertani ini kan proses panjang yang saling terikat. Misalnya nanam padi, ini kan bermula dari benihnya, lalu pupuknya, lahannya. Diujung proses berarti si benih. Proses nanam lalu panen.

Setelah panen, gabah dibawa ke penggilingan, jadi beras, masuk rantai distribusi, hingga ke end user.

Agar petani bisa sejahtera, disinilah kita harus mengevaluasi rantai proses bisnisnya. Disebelah mana kita bisa melakukan OPERASI agar petani bisa sejahtera.

Mensejahterakan petani ini kan sederhana : penerimaan hasil panen harus lebih besar dari biaya bertani dalam 1x masa tanam. Maka cobalah dioperasi kebelakang, mana-mana biaya yang memberatkan petani.

Cek supply benihnya…
Cek supply pupuknya…
Cek hal lainnya…

Kalo dikedua hal utama itu saja, petani sudah DIPERAS gak karuan, gimana mau sejahtera? Kita harus berani mengobrak-abrik bisnis modal pertanian ini. Gak akan bisa tumbuh kalo petani sebagai pondasi utama sektor ini, dihajar habis-habisan dalam pembelian benih dan pupuk.

Sama seperti peternak ayam, DOC atau benih ayam pitik nya darimana? Siapa yang menentukan harganya? Pro anak bangsa atau nggak?

Begitu negeri ini tidak bisa mengendalikan DOC yang merupakan benih ayam broiler, ya harga bisa kemana-mana. Jika kita evaluasi dari awal, mungkin malah negeri ini akan insyaf ke ayam lokal. Beres.

2. Merancang ulang porsi benefit dalam setiap rantai proses.

Melanjutkan dari nomor 1, di nomor 2 ini akan Saya jabarkan mendalam.

Begini…

Jika harga beras per kg sampai di tangan kita itu di harga Rp 15.000,00.

Coba kita belah di 15.000 per kg itu, petani dapat berapa. Ininsekedar ilustrasi, angkanya nebak…. saya juga sedang meraba…

Dari toko ritel beli ke pasar induk grosir 14.500 per kg. Berarti si toko ritel dapat 500.

Dari grosiran beli ke distributor, 13.900 per kg, berarti si grosiran dapat 600.

Dari distributor ke perusahaan penggilingan, beli 12.000. Berarti distributor dapat 1.900

Dari penggilingan ke pengepul gabah, beli 9.000, berarti penggilingan dapat 3.000.

Dari pengepul gabah ke PETANI, beli 7.000,00. Berarti pengepul dapat 2.000.

Nah.. kuncinya kan di Petani beli benih.. beli pupuk.. pengairan.. perawatan.. ini berapa?

Untuk menghasilkan 7.000 per kg, berapa biaya per kg? kalo ternyata 6.900 biayanya? Petani dapat 100 per kg… hehehe… ya amsyiong…

Ini yang menurut Saya perlu ditantang…

1x masa panen itu bisa 6 bulan.. ada yang bahkan tadah hujan.. hanya bisa 1x setahun.

Petani ini kerjanya non stop berhari-hari, pergi pagi.. pulang siang. Namun mengapa petani yang paling dramatis benefitnya?

Yang besar malah PEMILIK MODAL yang punya stok uang untuk membeli, atau malah food processing yang memiliki mesin olah, mesin pengeringan.

Menurut Saya disini letak problemnya : GAK FAIR disisi benefit… antara kerja dan porsi hasil. Mesti diatur deh kayaknya. Yang kontribusinya kecil dan relatif ringan baik tenaga dan modal, mohon ambil marginnya jangan gede-gede. Geser ke petani. #kalobisa

Renovasi bisnis model ini bisa lebih mudah. Kita bisa potong rantai distribusi yang terlalu panjang. Atau bahkan membangun alur distribusi langsung dari restoran ke setiap pabrik pengolahan. Makin pendek, makin besar margin petani.

3. Membangun usaha bersama pada sektor pengolahan.

Nah, nyambung dari nomor 2, Saya ingin menjelaskan strategi sederhananya, agar lebih cepat kita sejahterakan petani.

Konsep bisnis di sektor pertanian ini sederhana. Petani itu penyedia bahan baku, sedangkan yang mengolah dan mengemas hasil panen menjadi bahan pangan siap konsumsi adalah INDUSTRI PENGOLAHAN.

Mari belajar dari koperasi FONTERA di New Zealand. Ada 4.895 peternak sapi yang patungan membangun industri pengolahan susu. Sehari mampu mengolah 15 juta liter susu. Hasilnya di ekspor ke beberapa negara.

Peternak sapi yang menghasilkan susu sapi mencapai kesejahteraan maksimal, mengapa? Karena pasokan bahan baku susu yang mereka hasilkan DIBELI SENDIRI oleh INDUSTRI PENGOLAHAN yang mereka miliki BERSAMA.

Kalo kita peternak, dan unit pengolahan susunya adalah saham kita bareng-bareng, maka kita akan sama-sama mendesain HARGA BELI bahan baku yang maksimal. Yang penting industri pengolahannya gak rugi. Yang penting FONTERA nya gak bangkrut. Karena memang fontera adalah bisnis patungan para peternak. Mau untung gede juga akan kembali ke masing-masing peternak.

Ini berbeda jika unit pengolahan susu tersebut adalah milik KORPORASI SWASTA. Karena pendekatannya murni bisnis, wajar jika sebuah korporasi mencari asupan bahan baku paling murah. Wajar kan? Karena ada kejaran pengembalian investasi dan lain-lain.

Jika industri pengolahan dimiliki bersama-sama oleh peternak, maka forum komunikasi peternak akan mendesain harga beli yang wajar dan win win. Konsep koperasi sebenarnya adalah konsep paling tepat pada industri pengolahan.

LSM pemberdayaan BRAC saja mensolusikan kemiskinan petani dari industri pengolahan. Hari ini mereka punya pabrik pengolahan makanan yang mensejahterakan petani. Uang modal yang dari filantropi dijadikan pabrik pengolahan. Dan unit pengolaham beli tinggi hasil panen.

Ini yang Saya dorong kepada rekan-rekan muda di pedesanaan. Obrolan kepada anak muda DKM mesjid pedesaan adalah bagaimana membangun kepemilikan bersama pada unit pengolahan hasil panen. Gak bisa 1 petani punya 1 penggilingan. Kalo 1000 petani jadi mungkin.

Yuk ajak para petani sama-sama bikin unit pengolahan panen. Punya pengeringan gabah sama-sama, punya penggilingan sama-sama. Disinilah peran dana pemberdayaan, infaq produktif, wakaf produktif, dana sedekah, untuk dibelanjakan menjadi unit pengolahan hasil panen yang produktif.

Jika lahannya wakaf, mesinnya wakaf, apa tega mau ambil untung besar. Sudah jelas akan memenangkan petani dengan harga beli yang tinggi.

Unit pengolahan yang benar juga akan melahirkan produk output yang memiliki daya saing. Kemasannya bagus, isinya berkualitas, pasti harga jualnya tinggi. Apalagi jika koperasi petani bukan hanya memiliki unit pengolahan, namun hingga unit distribusi ritel sampai end user. kesejahteraan petani lebih dashyat lagi.

Jadi, kuncinya 2 : buat industri pengolahan hasil panen yang melahirkan produk bernilai tambah tinggi, dan yang kedua, bangun konsep kepemilikan bersama pada bisnis pengolahan tersebut : koperasi… atau usaha patungan ratusan petani… itu baru keren.

Begitu harga beli hasil panen tinggi, dan biaya pertanian rendah, insyaAllah petani muda akan pulang ke Sawah. Kalo gak ada sawahnya, pasti akan diusahakan ada, karena hasil panen menggiurkan.

4. Menghadirkan sentuhan teknologi pada sektor pertanian.

Diatas telah terbahas tentang pendekatan peningkatan profit. Revenue panen diperbesar. Lalu biaya ditekan.

Di ranah peningkatan revenue, kita harus membantu petani berfikir untuk hasil panen yang LEBIH BANYAK, LEBIH CEPAT dan LEBIH BERKUALITAS.

Pada bab lebih banyak, disinilah diperlukan pendekatan budidaya benih super. 1 pohon menghasilkan banyak buah, 1 batang menghasilkan lebih banyak bulir. 1 hektar sawah menghasilkan lebih banyak panen. Di titik ini, lagi-lagi TEKNOLOGI pertanian harus hadir.

Pada bab lebih cepat, pola panen juga kita harus fikirkan. Manusia makan tiap hari, kita gak bisa paksa petani rela panen hanya 2x setahun. Jika bisa 4x kenapa tidak? Kalo perlu 6x. 2 bulan masa panen. Rekayasa genetika tentu harus menjawab hal ini.

Pada bab lebih berkualitas juga demikian. Pola perlidungan hama, pola tanam, pola perawatan, jarak antar tanaman, mempengaruhi hasil panen. Semua ini terkait dengan teknologi.

Jika petani mampu menghasilkan lebih banyak, lebih cepat dan lebih berkualitas. Revenue pasti naik.

Sekarang pada pendekatan biaya.

Pola biaya pertanian harus dioperasi besar-besaran. Ada sawah yang gak pake bendungan irigasi, akhirnya pakai pompa air tanah, ada biaya bahan bakar disana. Padahal ada teknologi pompa tenaga matahari. Bisa efisien.

Cara bertani juga berpengaruh, jika pertanian manual membutuhkan misalnya 2 petani per 1 hektar lahan, teknologi mesin pertanian bisa membuat 2 petani pegang 50 hektar lahan. Ini biaya langsung drop, revenue tinggi dan terbagi hanya untuk 2 petani.

Pengairan memakai selang infus tepat tanaman…
Penyemprotan memakai drone…
Penggemburan memakai mesin traktor…
Panen memakai mesin…
Dan seterusnya…

Maka gak bisa dihindari, jika ingin menyelamatkan dunia pertanian, kita harus mengawinkan dunia pertanian ini dengan teknologi. Per 1000 hektar lahan sawah, harus ada 1 litbang teknologi. Disanalah 100 Doktor berbagai bidang keilmuwan turun tangan memikirkan pendekatan teknologi secara lokal. Misal lho ya….

5. MENDUKUNG pemerintah untuk BERANI menghadirkan ekosistem positif bagi petani.

Sektor alur bisnis pertanian ini adalah perikatan berbagai entitas bisnis yang saling terikat dan punya kepentingan. Ketika tulisan Saya mengajak untuk memperpendek alur distribusi, pemain tengah pasti geram. Ketika saya berbicara tentang koperasi pengolahan makanan, pengolahan makanan swasta pasti gak enak bacanya.

Saya sangka baik, gak ada swasta nasional yang ingin petani sengsara. Lagian kalo semua petani pundung, unit pengolahan juga gak akan ada pasokan bahan baku. Pada akhirnya saling membutuhkan.

Pada bagian ini, Saya ingin menyadarkan bahwa akhirnya… kita semua MEMBUTUHKAN pemerintah untuk HADIR menengahi dan membangun regulasi alur bisnis yang adil dan fair. Gak perlu ada statement “berpihak pada petani wong cilik”… fair aja bapak ibu. Korporasi swasta bahagia, distributor bahagia dan petani bahagia sejahtera. Itu saja…

Yang Saya raba dan rasakan, disinilah kita harus MENDUKUNG. Kenapa saya memilih kata “mendukung”, karena membangun ekosistem positif ini butuh keberanian.

Ada 250 juta jiwa anak bangsa. Anggap saja ada 100 juta kepala keluarga yang mengkonsumsi bahan pangan per bulan. Misalkan 100 juta KK ini masing-masing belanja pangan 2 juta per bulan, ini putaran 200T per bulan. Jika dikonversi per tahun, ketemu angka 2.400T per tahun.

Bahkan seluruh proses pangan dari hulu ke hilir konon berkontribusi pada 55% PDB. Didalamnya ada pertanian, transportasi, dan lain-lain… itu berarti sekitar 7.000T.

Jadi… merekonstruksi sektor pertanian menuju kesejahteraan petani.. menuju kembalinya anak muda daerah… menuju swasembada pangan… hal ini adalah urusan uang ribuan triliun. Beranikah pemerintah berbuat? Disinilah kita sebagai rakyat harus mendukung pemerintah melakukan renovasi besar-besaran pada sektor pertanian. Semoga.

Alhamdulillah, di fan page Pak Jokowi Saya baca berita baik, puluhan bendungan sedang dikerjakan, berarti ini masa depan lahan baru untuk pertanian. Dana desa pun tersalurkan 1T. Anak muda desa yang kreatif ada yang berhasil membangun desa wisata. Bahkan lahir BUMDES. Badan Usaha Milik Desa. Ini masa depan baik. InsyaAllah kita dukung terus.

*****

MasyaAllah… panjang ya… terasa jempol saya sedikit keram… hehehehe…

Semoga Anda membaca sampai selesai. Tiada harapan apapun kecuali ada perbaikan pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan. Masalahnya sama kok : bisnis modelnya USANG.

Saya yakin, kita semua harus yakin, jika kita berusaha bersama, mulai dari rakyat bawah, pengusaha swasta, tokoh masyarakat, pemerintah, mau serius bangun bisnis model terbaik untuk sektor Agri, insyaallah sektor agri kita melesat hebat.

Jika sahabat sepakat dengan ide yang disampaikan, mohon bantuannya untuk share dan membagikan ini ke jejaringnya. Silakan share ke grup WA-tele-milis, sertakan sumber Rendy Saputra. Gak usah pake Ketua umum Serikat Saudagar Nusantara, nanti banyak pertanyaan. Kadang orang gak lihat isi, malah lihat label. Share aja dengan cara terbaik, yang penting narasinya meluas. Diterima. Dan mendorong lahirnya ekosistem positif pertanian.

Bagi caleg, organ pemerintah, yang mau copaste konsep ini juga boleh. Gak usah minta ijin Bapak Ibu. Diamplifikasi saja Saya sudah bahagia. Yang penting petani kita sejahtera.

Semoga tidak ada lagi kesedihan paradoks terjadi… negeri agraris.. lahan subur dimana-mana.. tetapi sang petani want-wanti keturunannya agar tidak jadi petani.

Lahan-lahan sawah terjual menjadi lahan properti, perumahan, tanda putus asanya pemilik lahan. Di tulisan yang lain, Saya akam kampanyekan tempat tinggal bertingkat seperti apartemen.. hi-rise building… bukan landed. Itu solusi terbaik tata kelola masyarakat.

110 rb lahan sawah berubah fungsi setiap tahun. 500 ribu ton lenyap dari pasar. Jika supply dalam negeri terganggu, maka ahlan wa sahlan beras impor.. gula impor.. garam impor.. semoga gak terjadi oksigen impor.. ya Salam… salimna…

Maaf, ini nulisnya natural saja. Gak mikir titik koma sama EYD. Saya sedang nenumpahkan kesedihan sebagai anak bangsa. Tugas Saya mungkin tidak bertani di sawah, tapi mendorong lahirnya 5 juta petani muda yang kembali ke sawah.

Suatu hari nanti… Bertani adalah sesuatu yang keren.. berpenghasilan tinggi… menjadi rebutan…

Suatu hari nanti… Kita akan penuhi kebutuhan pangan bangsa sendiri.. dan pengusaha nasional beserta pemerintah… secara mandiri mengelola proses bisnis dari hulu ke hilir…

Suatu hari nanti… kita akan ekspor hasil panen kita ke luar negeri. Kita akan menjadi eksportir makanan olahan terbaik dunia.

Suatu hari nanti… tidak ada anak muda yang perlu terinjak-injak mencari pekerjaan. Tidak perlu ada petani yang menjual sawahnya. Tidak perlu ada petani yang menangisi hasil panen yang tidak ada harganya.

Suatu hari nanti…
Suatu hari nanti…
Suatu hari nanti…

Semoga Allah meridhoi.. mengijinkan.. memberkahi.. melindungi…

Anak Bangsa,
Rendy Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *