Sandiwara Playing Victim Dan Efek Domino

 

MH sejak pencalonannya maju calon ketua umum sudah banjir tuduhan dan underestimate, tak sedikit bully bahkan fitnah, tapi santuy MH meladeni dan menjelaskan duduk perkara secara logis, masuk akal

 

Dalam satu minggu ini di beberapa kanal wa grup, laman media social, bahkan media online ramai balas membalas tulisan. Beberapa nama mengudara namun dengan gaya tulisan yang mirip, Playing victim. Seolah sebagai petahana ZH dizalimi penantang, sehingga beberapa pernyataan muncul seperti walaupun dihina dan dizalimi ZH tidak akan membalas lebih baik menyerahkannya kepada Allah.

Kalau melihat kenyataan siapa yang zalim siapa yang menuduh. Siapa yang bertindak sewenang–wenang tapi seolah-olah bijksana? Seorang kader PAN yang selalu mengawal dan setia tiba-tiba diberhentikan, anggota DPR yang berbeda pilihan langsung tidak diakomodir bahkan tidak ditegur sekalipun. Hadir bersama kandidat lain langaung ditegur, itu apa namanya?

Tak cukup sampe disitu, DPD yang tidak mendukung langsung ancaman PLT, berbeda pilihan diancam akan mencabut rekomendasi pilkada, padahal belum tentu juga menang dalam kongres. Selain tindakan yang amoral lainnya seperti penggunaan fasilitas negara yang mestinya dikembalikan ke negara masih digunakan bahkan dipakai sebagai posko pemenangan. Ah… Pokoknya playing victim banget bahkan kelebayan.

Diawal, sebelum rakernas media-media pendukung ZH menebar kabar bahwa majunya ZH dikancah bursa ketum karena dukungan 30 DPW dan 300 DPD, dengan begitu merupakan caketum petahana yang berpeluang menjadi ketua umum kembali, PD.
Sayangnya, kubu ZH sering membuat ironi yang pastinya dikubunya sendiri merasa malu dengan tindakan ZH. Bertindak arogan tidak lah menunjukan performa yang elegan sehingga lambat laun pendukung ZH jengah mulai tak nyaman. Tindakan yang seringkali diluar batas kewajaran, intimidasi atau mempeta konflik membuat lelah saudara-saudara di DPD DPW, garang, tapi curhat masalah domestik dan ungkapan kualat.

Kontradiktif, lambat laun menjadi bumerang. Semakin ditakuti semakin kuat arus migrasi. Secara alamiah seseorang akan kembali pada fitrah, mencari asalinya nurani menyapa. Realitas bertemu Mulfachri -Hanafi terbukti logis, nyaman karena mengedepankan sikap egaliter, menyapa sama rata, siapapun boleh bicara dan apa adanya.

Memang, kita teringat statemen Rocky Gerung beberapa waktu lalu, “Salam akal sehat” ya, pada akhirnya siapapun rindu akal sehat tak ada yang mau dibelenggu kebodohan. MH betul-betul tampil apa adanya, tidak so jaim atau membuat jarak apalagi meng-elit. Team yang mendampingin dalam perjalananpun terasa santuy saja tak ada tekanan.

MH sejak pencalonannya maju calon ketua umum sudah banjir tuduhan dan underestimate, tak sedikit bully bahkan fitnah, tapi santuy MH meladeni dan menjelaskan duduk perkara secara logis, masuk akal. MH yang dituduh emosional, pemarah dan pemberang sesungguhnya tidak pernah tampak marah, biasa saja. Biar alam yang menunjukan kebenaran.

Kini arus migrasi tak bisa dicegah, dukungan kepada MH tidak bisa dibendung, secara diam-diam atau terang-terangan mengalir terus. MH meniati untuk menyelamatkan partai yang hampir rusak ditangan orang yang salah. Berat memang perjuangan ini, melelahkan bahkan harus menahan diri karena banyaknya pengaduan sebagai korban intimidasi.

Barisan ZH mulai stuck tak banyak berkutik, mungkin menahan malu dukungan makin merosot, goyah, tim thank-nya mulai tak percaya diri, buzer-nya menyerang kubu MH dengan membabi buta. Baiklah, matahari tak pernah ingkar janji, kita melangkah bersama Mulfachri-Hanafi……***

#AyoDebatJelangKongres
#TehPAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *