Setelah Kali Code, Spirit Perubahan Itu Datang dari Sungai Gajah Wong

INDONESIAPRESS.NET, YOGYAKARTA – Bila dahulu Yogya punya cerita soal penataan Kali Code, kini cerita soal bagaimana wajah sungai yang berubah menjadi milik Sungai Gajah Wong, kali yang berada di sisi timur Kali Code.

Sungai Gajah Wong berubah dari kumuh menjadi kawasan yang tertata. Warga atas kesadarannya sendiri mengubah bantaran Sungai Gajah Wong Yogyakarta menjadi pemukiman yang tertata dengan melaksanakan program kota mundur, munggah madhep kali.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memuji perubahan wajah Sungai Gajah Wong. Sri Sultan menyebut perubahan itu bisa dilihat dari ruang tamu warga yang kini menghadap sungai. Sungai tidak lagi dijadikan dapur rumah.

“Bisa dipastikan sungai itu tidak kumuh lagi karena sudah tidak ada lagi warga yang akan turun ke sungai untuk membuang sampah,” ucap Raja Keraton Yogyakarta itu saat berdialog dengan warga masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran Sungai Gajah Wong di Taman Gajah Wong, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Jumat 22 November 2019.

Pada pertemuan ini dihadiri pula Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, MA., Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Ir. Arofa Noor Indriani, M.Si., Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg. Pembayun Setyaning Astutie. M.Kes, serta pimpinan OPD DIY maupun Kota Yogyakarta.

Sri Sultan mengatakan dengan kawasan yang semakin tertata, warga punya pelaung untuk meningkatkan kesejahteraan. Caranya, menjadikan Sungai Gajah Wong sebagai destinasi wisata di Kota Jogja.

Menurut Sri Sultan di sepanjang Sungai Gajah Wong bisa dibuat bendungan dan terjunan buatan agar air bisa mengalir deras sehingga bisa untuk wisata. Dari aliran sungai itu, nantinya bisa diadakan perahu atau arung jeram. “Yang dikelola oleh anak-anak muda,” ucap Sultan seperti dikutip dari laman jogjaprov.go.id.  .

Sultan meminta anak-anak muda di sepanjang bantaran Sungai Gajah Wong dari Utara sampai Selatan, berkolaborasi mengelola objek wisata di Sungai Gajah Wong. “Sungai Gajah Wong menjadi obyek arum jeram,“ kata Sultan.

Ketua Forsidas Gajah Wong, Purbudi Wahyuni penataan bantaran Sungai Gajah Wong dilakukan melalui dengan cara “mundur, munggah madhep kali”. Filosofi itu diterapkan di sepanjang bantaran mulai dari Baciro, Pandean hingga Giwangan

Perubahan wajah Sungai Gajah Wong dimulai sejak 2012. Penataan dilakukan dari hulu hingga hilir di sepanjang bantaran Sungai Gajah Wong. Warga, kata Wahyuni, bersedia mengepras rumahnya dan membalikkan rumahnya yang awalnya dapur dan WC di bibir sungai, menjadi menghadap sungai. “Ruang tamu rumah warga kini menghadap sungai,” katanya.

Dapur saat ini berada di belakang, dan atas program tersebut di tahun 2017, penataan bantaran Sungai Gajah Wong mendapatkan predikat terbaik tingkat nasional.

Saat ini yang menjadi tantangan bagi warga adalah mengalirkan air ke rumah-rumah yang ada di sepanjang bantaran Sungai Gajah Wong. Karena menurut Gubernur DIY, rumah yang sehat itu harus disediakan WC yang itu memerlukan ketersediaan air.

Oleh karena itu Gubernur DIY menekankan apabila di sepanjang bantaran Sungai Gajah Wong tersebut terdapat mata air, masyarakat bisa bergotong royong membuat saluran air ke rumah-rumah. Pengadaan pipa, kata Sultan akan diabntu pemerintah.

Sri Sultan juga menantang warga di bantaran Sungai Gajah Wong untuk membuat program secara rinci, pengembangan penataan bantaran sungai yang hubungannya dengan pengadaan air bersih.

Pemerintah DIY, kata Sultan berjanji akan akan mem-back up bantuan untuk program tersebut. Sultan menantang rincian program itu sudah masuk ke mejanya pada Januari 2020. “Saya tunggu pertengahan Januari program sudah di tangan saya, iso ora,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *